Wednesday, February 24, 2010

Disney's Lady and The Tramp (1955), a review























Pertama kali nonton Disney's Lady & The Tramp, umur gw baru 5 atau 6 tahun..
Waktu itu belum ada VCD, apalgi DVD, seperti sekarang ini..
Zaman itu hanya ada BETA video cassette atau laser disc yang segede wajan.
Jadilah gw nonton film ini tanpa subtitle, dan hanya berusaha mengartikan gambarnya..

Belasan tahun kemudian, gw tiba-tiba teringat akan Lady and The Tramp ini..
Dan mencoba mengingat konflik dan alur ceritanya..
Tapi, sayangnya gw benar-benar lupa!!
Makanya, berbekal alasan inilah gw mencari donlotan movie ini dan menontonnya kembali..
Untungnya kali ini gw lumayan mengerti..


Lady and The Tramp sebenarnya roman yang sangat menarik. Bahkan jika dialami oleh manusia, bukannya 2 doggy lucu.
Inti drama romantis ini (memang kadar romantisnya berkurang, dikalahkan oleh nuansa gemes, saat yang memerankannya adalah cocker spaniel) adalah kisah cinta antara 2 insan yang berbeda derajat sosialnya.
Lady, adalah seekor cocker spaniel yang cantik banget yang dibesarkan dalam keluarga tadjir dan sangat mencintainya.
Sedangkan Tramp, adalah seekor mongrel yang hidup bebas merdeka namun seringkali mengalami kejadian genting di hidupnya.
Btw, mongrel = anjing kampung, kasarnya..
Awalnya Lady dan teman-teman anjing aristokratnya menganggap rendah Tramp.
Sampai suatu ketika Lady mulai menyadari bahwa ia tersingkir dari keluarga yang mencintainya dan terpaksa hidup sebentar di jalanan.



Yah, pada awalnya Jim dan Darling (majikannya Lady) mencintai Lady seperti mencintai anak mereka sendiri.
Itu waktu para manusia ini belum punya anak.
Ketika seorang bayi lelaki hadir dalam kehidupan mereka, tingkat kepentingan Lady menurun drastis.
Jim bahkan menyebut Lady sebagai, "that dog".

Memang sebenarnya siy Lady memang "dog".
Tapi ucapan itu membuat Lady lemas seketika karena Jim sebelumnya tak pernah menyebutnya demikian..
Pada saat inilah Tramp muncul, dan memberi peringatan bagi Lady.
"When baby moves in, the dog moves out.."


Peringatan ini diabaikan oleh 2 doggy teman Lady..
Namun Lady sangat shock dan percaya pada peringatan tersebut.
Sehingga pada suatu hari Lady bertekad melakukan sesuatu.
Lady berniat mencari tahu dengan mata kepalanya sendiri, seperti apa sih "bayi" itu?

















Ki-Ka : Jock, Tramp, Lady, dan Trusty (seekor Bloodhound).
Doggy 4 sekawan inilah pemeran utama di film animasi Disney ke-15 ini!!



Untungnya tindakan ini berbuntut baik..
Jim dan Darling segera menyadari Lady rada terlantar akibat kehadiran bayi mereka, dan sebenarnya Lady hanya penasaran terhadap bayi manusia.
Bukannya ingin mengganggu atau menyakiti bayi mereka.
Akhirnya, problema ini terselesaikan..
Lady kini menjabat sebagai "Penjaga Bayi".

Namun, ternyata muncul masalah baru bernama Sarah.
Sarah ini adalah nenek-nenek yang menjaga si bayi saat Jim & Darling pergi ke China.
Dan Lady juga kini berada di bawah asuhan Sarah.
Ga masalah siy, sebenarnya. Tapi, si Sarah ini ga suka anjing!
Dan parahnya lagi, Sarah membawa 2 ekor kucing Siam yang nyebelin dan manipulatif bangget!!

Percaya atau ga, film inilah yang menumbuhkan sugesti di diri gw bahwa kucing Siam itu jahat!
Hahah..
Oh, ya..Baru inget!
Sayangnya, di film ini tak diceritakan bagaimana nasib 2 kucing Sial eh, Siam yang nyebelin itu..

Btw, theme song bagi kedua kucing Siam sinting ini lucu bangget loh!
Dan gw rada geli waktu Hilary dan Haylie Duff menyanyikan ulang lagu berjudul The Siamese Cat Song! Lagu unik ini aslinya dinyanyikan oleh Peggy Lee.


















Nah, memang ternyat si kucing Siam ini menyebabkan Lady terusir secara ga langsung..
Dan saat sedang sibuk melarikan diri dari kejaran anjing garong, Lady bertemu kembali dengan Tramp..
Kemudian si Tramp ini mengenalkan kehidupan jalanan yang menakutkan sekaligus menakjubkan kepada Lady.
Bahkan Tramp yang rada gatel ini memanggil Lady dengan sebutan "Pig"..(baca:pij).
Karena ini adalah kepanjangan dari "pigeon"..
Aih! romantisnyaa..


Tapi kemudian, Lady yang sial dijebloskan ke dalam Dog Pound..
Yah, itu tuh... Tempat penampungan anjing yang ga punya kalung..
Di tempat yang menyedihkan inilah Lady mengetahui bahwa Tramp ini playboy abiz!
Jadilah Lady ilfil berat...

Well, apakah Lady dan Tramp berjodoh?
Bagaimana dengan perbedaan derajat sosial mereka..
Film ini mungkin juga menjadi inspirasi bagi film The Punk and The Princess..
Hahah..


































Yang atas adalah Jock (sobatnya Lady, seekor Scottish Terrier), sedangkan yang bawah adalah Jock versi nyata.


Friday, February 19, 2010

Sid & Nancy, a movie review























Membuat buku sejarah, film sejarah dan review tentang film sejarah itu sulit.
Karena kita harus super berhati-hati jangan sampai terjadi kesalahan penulisan.
Dan meskipun kita sudah menulis berdasarkan text book, hanya si tokoh sejarah dan Tuhanlah yang mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Gw bisa membayangkan sang tokoh sedang senyum-senyum geli (di akhirat, pastinya (entah dia ada di surga atau sedang disiksa)) saat membaca buku tentang sepak terjangnya di dunia yang ditulis oleh orang yang bahkan ga dikenalnya!
Padahal kisah sebenarnya (yang dialami sang tokoh sendiri) berbeda 180 derajad dengan yang ditulis!


Cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut bahkan lebih parah..
Kita benar-benar tak bisa mempertanggungjawabkan akurasinya.
Nah, bagaimana kalau sejarah tentang sebuah band yang menjadi ikon suatu subkultur di dunia?
Kisah ini akan berbeda-beda alur dan detailnya, tergantung sudut pandang si narator.


Tapi, gw akan menceritakan kisah ini, berdasarkan sudut pandang Alex Cox.
Sudut pandang yang tertuang dalam movie berjudul Sid and Nancy ; Loves Kills.
Memang movie ini bercerita secara flashback, tapi tetap saja intinya kisah di movie ini dimulai saat Sid bertemu Nancy.
Namun gw rasa kita perlu sedikit mengetahui bagaimana awalnya Sid Vicious menjadi personel Sex Pistols. Dan apakah itu Sex Pistols?


Bulan Agustus tahun 1975, Malcolm McLaren si pemilik toko “Sex” (toko ini jelas dari namanya menjual barang-barang menyenangkan seperti fetish gear, baju.sepatu kulit, dan asesoris punk) berniat untuk memajukan usahanya.

Malcolm ingin membuat tokonya sebagai tempat bersarangnya anak punk Inggris. Nah, untuk mencapai hal ini dibutuhkan iklan berjalan untuk memperkenalkan “Sex”-nya ke khalayak ramai.
Ide Malcolm adalah dengan mencari sekaligus mengorbitkan sebuah band punk, dan sebagai balasannya personel band tersebut harus memakai segala macam benda dari “Sex”.
Cara berjualan ini disebut sebagai endorse, tentu kalian tau.

Dari sekian banyak anak punk yang dikenalnya, Malcolm memilih orang-orang ini ;
1. Gitaris Steve Jones,
2. Bassis Glen Matlock
3. Drummer Paul Cook
4. Dan si sinting John Lydon (akhirnya leboh dikenal sebagai Johnny Rotten)
4 bocah punk ini kemudian menjadi personel Sex Pistols!

Penampilan pertama Sex Pistols adalah di St. Martin School of Artdi West End pada 6 November 1975. Yah, seperti yang kita pernah dengar..
Musiknya ituuu...
Rusuh – rusuh – rusuh.
Dan rusuh.
Seperti kata gitarisnya, Steve : “We’re not into music, we’re into chaos!”
Jadi punk ala Sex Pistols = 90% attitude (yang khas), 10% musik.

Sampai tahun 1976, demam Sex Pistols melanda Inggris.
Demam ini juga melanda bocah cowo sipit bernama Sid Vicious.
Dia bisa dibilang adalah fan #1-nya Sex Pistols. Karena dia siap sedia menolong para personel Sex Pistols dalam kondisi seperti apapun.
Seperti saat dia rela digebukin band heavy metal karena band itu ga mau meminjamkan peralatannya pada personel Sex Pistols.

Sayangnya, semakin lama kelakuan Sid makin menjurus ke arah brutal.
Setiap Pistols manggung, pasti ada keributan.
Dan dalangnya pasti Sid Vicious.
Dia pernah menghajar orang yang dudukin tempat Vivienne Westwood tanpa bilang-bilang.
Entah cari perhatian atau nggak, tapi Sid lantas makin jadi icon buat Pistols.
Vivienne Westwood, si sahabatnya Sid, berhasil menjadi nenek dan tadjir.
Kenapa Sid ga belajar banyak dari cewe ini??















Ka-ki : Chloe Webb (as Nancy), Gary Oldman (as Sid)..
Dan siapakah yang ketigaa..??
Itu Courtney Love!
Di film ini dia berperan jadi Gretchen, temannya Nancy..


















Ini adalah adegan bodoh saat Nancy ingin kabur membawa barangnya dan barang nyokapnya Sid dalam kondisi fly..
Sid mengejar niy cewe gila..Dan dia sampe lupa bahwa dia belum pake celana..





Akhirnya Malcolm, manajer Sex Pistols, berhasil nembusin band sinting ini EMI.
Tapi akibat suatu peristiwa yang mengakibatkan butanya mata seorang penonton cewe di konser Sex Pistols, band ini dilarang manggung untuk beberapa waktu.
Tapi lagi-lagi Sid Vicious datang menolong.
Pistols pun diselundupin di setiap festival punk.
Band The Flower of Romance (band isengnya Sid) jadi alat buat nyelundupin Sex Pistols.
Begitu The Flower dipanggil, yang muncul malah Pistols.

Namun, ga beberapa lama suatu perubahan teradi.
Bassis Glen Matlock dipecat atau entah karena kemauan sendiri, yang jelas Matlock keluar dari Sex Pistols. Kemungkinan hal ini terjadi karena hubungan antara si bassis dengan personel lain kurang baik.
Dan akhirnya, entah ini adalah langkah tepat atau langkah bodoh, Sid Vicious masuk menggantikan Matlock.

Baru kemudian, Sid Vicious yang mulai tenar bertemu dengan Nancy Spungen di rumah temannya, Linda si PSK fetish.
Awalnya, Sid ga begitu peduli dengan Nancy yang memang sejak awal sudah menjadi drug user...


















Nancy Spungen versi Chloe Webb..
Mengenai Chloe Webb..
Entah kenapa dia yang dipilih jadi Nancy..
Soalnya, Nancy yang asli mukenye ga semenyeramkan Chloe Webb di movie ini..
Sayang sekali, padahal fashion punk yang ditampilkan di movie ini udah keren bangeet.




Tapi, yang namanya takdir yah ga bisa dilawan.
Entah karena racun apa, Sid kepincut setengah mati dengan Nancy.
Nancy ini bisa dibilang adalah penyebab Sid menjadi hancur-hancurnya, terutama karena Sid menjadi ketagihan terhadap narkotika.


















Johnny Rotten, yang awalnya sobat dekat Sid..
Namun ujung-ujung jadi rada ilfil karena kelakuan Sid yang makin ancur.




Gw pribadi sih cukup setuju dengan kata-kata Steve Jones dan personel Sex Pistols lainnya, yang menyatakan bahwa Sex Pistols bubar karena Nancy Spungen membawa pengaruh buruk bagi Sid.
Konser Sex Pistols yang tadinya rusuh-seru, kini menjadi rusuh-ancur karena kelakuan Sid yang makin ga bisa dikontrol setelah mengonsumsi narkotika.
Pokoknya, intinya Sex Pistols turun pamor karena orang lama-lama muak dengan kerusuhan ga jelas Sid.
Personel lain Sex Pistols pergi mencari peruntungan lain.
Dan yang tersisa hanyalah Sid Vicious dan Sang Manajer, Malcolm dan Phoebe.
Sebenarnya manajemen Sex Pistols udah muak luar biasa dengan kelakuan Sid.
Tapi, Malcolm berhasil menemukan pekerjaan bagi Sid.


















Ada seorang sutradara yang mau membuat film dokumenter musik berjudul Rock n Roll Swindle, yang ingin menonjolkan perjalanan karir Sex Pistols.
Serunya, syuting film ini dilakukan di Paris dan Sidlah pemeran utamanya.

Seperti biasa, Sid berulah lagi..
Kali ini dengan menolak untuk berakting di film itu, karena dia males berpura-pura.
Seluruh kru film sempet bingung ngebujuk Sid untuk berakting. Akhirnya cuma Nancy bisa membujuknya untuk mulai akting.
Syaratnya, Sid dibolehkan ngerombak lagu ciptaan Paul Anka yang berjudul ‘My Way‘ (yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra).
Tapi bukan Sid namanya kalo ga berbuat aneh.
Dia mengganti lirik lagu My Way menjadi I ducked the blows / I shot it up / and killed a cat.

Nah, di movie Sid & Nancy ini ada adegan syuting film tersebut di bagian Sid menyanyikan My Way.
Kali ini Sid pake jas putih yang keren dan menyanyi di panggung yang keren juga.
Meskipun dia menyanyikan My Way dengan lirik yang diacak-adut.
Lalu, di akhir performance dia nembakin penonton (yang isinya adalah veteran angkatan darat dan nenek-nenek) dengan pistol. Bahkan Nancy pun ikutan ditembak!!
Eitt! Tapi ini hanya syuting film.



Setelah bosen sendirian, Sid akhirnya membentuk The Vicious White Kids ini juga mengajak Rat Scabies dari The Damned dan Steve New. Sid pun naik pangkat jadi vokalis karena posisi bassis digawangi oleh..Glen Matlock! Bassis lamanya Sex Pistols!
Ironisnyaa...
Dan memang, di film ini Sid tampak ga begitu bisa main bass..
Jadi ya sudahlah..
Mending loe pegang mic aja..

Namun, kali ini mereka ga berhasil menguasai Inggris, dan akhirnya Sid dan Nancy pindah ke Amerika (btw, Nancy itu orang Amerika..)
Di New York, mereka tinggal di Chelsea Hotel, di West 23rd Street.
Hotel ini cocok banget dengan hobi baru pasangan ini, nyuntik narkotika..
Karena di sini pengawasannya memang ga ketat.

Di hotel inilah akhirnya Sid dan Nancy bertengkar hebat yang diakhiri dengan bencana.
Nancy yang histeris (dan lagi sakaw) menantang Sid untuk membunuhnya..
Sid yang histeris (dan sakaw juga) akhirnya menusuk Nancy dengan pisau.

Nah, berarti Sid kah yang membunuh Nancy?
Belum tentu...
Karena Nancy masih pergi tidur dengan normal setelah pertengkaran itu..
Barulah dia merasa ga enak saat dini hari..
Dan mendapati perutnya bolong, tempat tidurnya banjir darah, dan dia juga mendapati bahwa tubuhnya sudah dingin..
Dengan kekuatan terkahir Nancy berjalan ke kamar mandi (entah mau ngapain) dan akhirnya dia mati di lantai kamar mandi.

Yah, intinya..
Sid kemudian dibawa ke penara Rikers Island sebagai tersangka utama pembunuhan pacarnya. Pengadilan kasus Sid digelar tanggal 13 Oktober 1978.
Dia menghadapi tuduhan pembunuhan kelas dua, dengan hukuman minimum 7 sampai 25 tahun, Sid baru boleh bebas dengan membayar uang jaminan 25 ribu pound.
Dan untungnya Virgin Records setia membantunya.
Pada tanggal 21 November 1978 Sid bebas dengan uang jaminan.

Namun, bisa dibilang Sid bebas dari penjara hanya untuk menjemput kematiannya.
Sid (yang memang udah kehilangan tujuan hidupnya) OD pada tanggal 2 Februari 1979.
Ia meninggal (dalam usia nyaris 21 tahun) disaksikan ibu dan teman-temannya.

Tujuh tahun kemudian, sutradara Alex Cox membuat perjalanan kisah cinta Sid dan Nancy ke dalam sebuah film. Film yang berjudulSid And Nancy: Loves Kills ini dibintangi Gary Oldman sebagai Sid dan Chloe Webb sebagai Nancy.
Btw, Gary Oldman ini adalah pemeran Count Dracula-nya Bram Stoker dan James Gordon-nya Batman loohh!!
Hebat yaahh! Bisa berubah-ubah gitu mukanya!



Disney Princess Enchanted Tales (2007), a review

Gw ga keberatan disebut “kebocahan” (kata kekanakan (childish, maksudnya) udah sering dipake). Karena itu, gw juga rela bela-belain nyari tumpukan download link dari movie Disney klasik sampe ga tidur.
Dan akhirnya gw menemukan film ini, Disney Princess Enchanted Tales, yang dirilis pada tahun 2007. Dan sialnya, film ini ga keluar di bioskop atau TV Indonesia (surpriiisee..).























Yang kali ini kebagian peran dalam Disney Princess Enchanted Tales adalah Princess Aurora dan Princess Jasmine.
Oh,ya! FYI, tadinya yang bakal menemani Aurora itu adalah Belle-nya Beauty and The Beast. Tapi entah kenapa, Disney menggantinya mendadak dengan Jasmine.

Cerita pertama adalah tentang Princess Aurora yang ditinggal sendirian oleh ayahnya, ibunya, tunangannya dan calon mertuanya. Yap! Aurora ditinggal dan dilimpahkan tugas untuk menggantikan raja selama 2 hari! Aihh!
Pada hari pertama, Aurora berhasil melakukan tugasnya dengan baik.
Tugas apakah itu? Yah, Aurora disuruh menandatangani gunungan surat dan dokumen penting di ruang kerja ayahnya, Sang Raja.
Tadinya Sang Duke yang menemani Aurora memintanya untuk segera menandatangani surat tersebut tanpa perlu membaca isinya terlebih dahulu. Namun, Aurora keukeh ingin membaca semuanya.


Jadilah pekerjaan ini makan waktu hingga dini hari..
Ketiga ibu peri (Flora, Fauna, Merryweather, kalo-kalo loe ga tau namanya..) mengkhawatirkan putri angkatnya itu, sehingga mereka menawarkan diri untuk membantu.
Awalnya Aurora menolak dengan halus, namun Merryweather memaksa untuk meminjamkan tongkat sihirnya kepada Aurora.
Dan, apa boleh buat.. Akhirnya Aurora menerima tongkat itu.
Siapa sangka ternyata meminjam tongkat ibu peri bisa menimbulkan bencana yang menghebohkan?? Pesan moral dari cerita pertama adalah ;
“Saat menghadapi situasi sulit, janganlah putus asa dan mencari shortcut sembarangan. Tetaplah teguh dan bersemangat dalam mencari jalan keluar yang baik. Kalian akan takjub begitu mengetahui apa yang bisa dilakukan oleh diri kita sendiri.”
























Cerita selanjutnya adalah tentang Princess Jasmine yang lagi ditinggal Jin Biru dan Aladdin.
Jasmine ini, yang memiliki sedikit jiwa rebel, mulai muak dengan kegiatan sehari-harinya sebagai putri. Yang dia lakukan hanya memotong pita untuk meresmikan toko, berdiri dan berpose berjam-jam untuk dilukis, dan banyak lagi hal membosankan lainnya.
Dengan depresi dia pergi menemui ayahnya dan meminta pekerjaan yang lebih berarti dan menantang.

Akhirnya ayahnya memberi tugas untuk menjadi mentor di sekolah bagi anak-anak miskin.
Dan Jasmine sangat shock saat mengetahui bahwa mereka semua sangggaaaDD nakaalll!!
Bahkan Rajah (harimaunya Jasmine, kalo loe ga tau) kalah telak menghadapi kenakalan bocah-bocah itu. Wuiih, gawat!

Di tengah-tengah kegentingan ini, muncul masalah lain.
Sahara, stallion milik almarhumah Sang Ratu, tiba-tiba hilang saat Hakeem (bocah pengurus kuda) pulang ke rumah. Raja menganggap Sahara sebagai memento terhadap istrinya, jadi kalau sampai Raja tahu bahwa Sahara hilang....
Agh! Hakeem bisa-bisa...
Siapa sih yang menyebabkan Sahara hilang?
Dan apakah yang dilakukan Jasmine untuk membantu Hakeem?
Dapatkah Jasmine mengendalikan murid-murid kecilnya?


'Jasmine



Pesan moral dari cerita Princess Jasmine ini cukup singkat ;
“Be strong, and never give up..”


Ini dia sedikit cuplikannya!
Please enjoy..

Thursday, February 18, 2010

The Wolfman, a review
























Tadi malam aku tak bisa tidur nyenyak, dan paginya bangun dengan tubuh tak enak..
Kenapa??
Karena..
Gw baru nonton The Wolfman!!

Movie ini bisa loh, dituntut ke komisi perlindungan konsumen.
Karena, di posternya tak tertera peringatan bagi penonton lanjut usia yang mengidap penyakit jantung! Man, parah banget niy film...
Baru beberapa detik pertama sajja, jantung kita sudah dibuat kabur duluan pulang ke rumah!
Aih! Udah gitu, sayangnya kita ga bisa nebak di adegan mana lagi kekagetan itu bakal muncul! Jadi terus aja ampe abis kita terkaget-kaget..!
Dan memang, ambience dark dan horror dari film ini kenteeelllll bangeett..
Bikin merindiingg... Hiiihh...
Mana lingkungan tempat gw tinggal mirip pula dengan hutan-hutan di sekitar Talbot Hall..Hiih..
Tadi malem gw jadi celingak-celinguk terus, takut disamber werewolf..
Hiiih..

Jadi, The Wolfman bercerita tentang penyelidikan Lawrence Talbot untuk menemukan pembunuh sadis adiknya, Ben Talbot.
Dia tak menyangka bahwa kasus ini melibatkan kekuatan sihir jahat yang sudah ada berabad-abad lalu. Meksipun sudah lama tak berjumpa adiknya, karena dia pergi keliling dunia sebagai pemain teater, Lawrence bertekad memecahkan kasus ini sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi adiknya. Adiknya tewas mengenaskan banget, otot di sekitar rusuknya udah habis digigitin sesuatu...

Susahnya, Lawrence mesti menghadapi 3 penghalang ;
1. Bokapnya yang super eksentrik dan anehnya, ga begitu terpukul atas kematian Ben Talbot.
2. Penduduk Desa Blackmoor yang curigaan terhadap keluarga Talbot.
3. Trauma yang ada di dalam dirinya sendiri, yang terkadang membuatnya berhalusinasi.



















Ini adalah adegan pas si Lawrence (yang udah menjelma jadi werewolf kabur setelah memangsa paramedis di asylum tempat dia dirawat, atau disiksa lebih tepatnya).



Beberapa penduduk desa yang cukup “cerdas” mulai menyadari bahwa beberapa pembunuhan sadis yang terjadi akhir-akhir ini adalah perbuatan serigala jadi-jadian, a.k.a werewolf.
Dan entah mengapa, mereka punya firasat buruk terhadap keluarga Talbot yang sejak dulu sering mengalami kemalangan. Mereka menganggap keluarga Lawrence inilah yang membawa kesialan. Dan mereka tak salah 100%, ternyata...
Selanjutnya silakan tonton sendiri, wokey?!
























Btw, nilai plus bagi film ini, yaitu :
a. Ga hanya menggambarkan bunuh-bunuhan ala werewolf saja, diceritakan juga bagaimana Lawrence mengalami gangguan jiwa dan halusinasinya (kasihan, dia dikirim ke asylum yang dokter & paramedisnya sendiri tampak sakit jiwa!). Dia dianggap megidap penyakit mental yang disebut (ironisnya) lycanthropy. Yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengira diri mereka dapat berubah menjadi hewan, terutama serigala.

b. Ya itu tadi, ambience-nya dapet banggett!! Kalo ga salah, komposer musiknya adalah Danny Elfman yang tersohor ituh! Yang juga membuat gw jatuh hati setengah mati setelah mendengar OST-nya 9 (yang punya Tim Burton..).

c. Gw ga nyangka.. Ternyata kesadisan di film ini ga disensor!
Aseek!! Jadi kalian bakal menemukan usus-usus, lambung, liver berserakan di tanah di hutan..
Bahkan kepala pun dibiarkan menggelinding di lantai rumah!!

d. Setting film ini keren banggettt! Tahun 2009/2010 kan jarang-jarang ada film bersetting Inggris zaman jeboott (selain Sherlock Holmes, tentu)..

Nilai minus bagi film ini, yaitu :
a. 15 menit awal, penonton bisa menebak pelaku pembunuhan Ben Talbot dan penduduk desa lainnya. Sayang sekali..

b. Bahkan ending-nya pun bisa ketebak..
Jadi gw ga perlu cape-cape menuliskannya di sini karena kalian pasti bisa langsung mengerti saat menyaksikan movie ini..


By the way, movie 2010 ini adalah versi baru dari film berjudul sama yang dirilis tahun 1941.
Movie ini dibintangi oleh Benicio del Toro sebagai Lawrence Talbot, Anthony Hopkins sebagai bokapnya, Emily Blunt sebagai Gwen Conliffe (tunangan alm. adiknya Lawrence), Hugo Weaving (aaaghh..Elrond! Di sini ia jadi Francis Aberline)..























Ini dia couple yang bernasib kurang baik (dalam film) ; Benicio del Toro dan Emily Blunt!

Wednesday, February 17, 2010

Saykoji, and his brilliant lyric

Bukannya jadi jatuh mainstream..
Tapi dari dulu, gw selalu kagum terhadap dunia rap..
Ya, ituuh..
Tentunya karena mereka jago-jago banget dalam pemilihan lirik..
Hebat, yah!!
Dan juga mereka jago banget kalo udah berbau satir!
Dan kebetulan lagunya Saykoji ini lagi pas banget kalo disimak sekarang...

Please welcome..Saykoji with..
Copy My Style (Again?!!)

You copy my style
You copy again
Apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
Ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
But sooner or later I gotta take my stand

Udah bolak balik sampe balik kebolak
Temen gue sampe keselek pas makan kolak
Lagi lagi berulang ulang terus terjadi
Tetangga bikin ulah lagi bikin sakit hati

Suka ngaku ngaku kagak malu malu
Punya indonesia di klaim satu satu
Apa memang kalian yang gak mampu mampu
Buat budaya (atau gaya) sendiri efek gak ampuh ampuh

Baca rambu rambu, bangsaku berbudi luhur
Tapi usik terus, reputasi mu masuk kubur
Jujur gue bangga jujur gue bersyukur
Elo ngaku ngaku berarti progress lo mundur

Panas ku bertutur kreasi bicara
Walau sudah jelas identitas ku dijarah
Joe farizal aja bisa minta maap
Masa yang lain kagak nyadar kagak tanggap

You copy my style
You copy again
Apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
Ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
But sooner or later I gotta take my stand

Bukan mo sok nasionalis sombong mengangkat alis
Bukan mo sok gangster bukan sok sadis
Walau lagi ngetop bukan gue sok ngartis
Tapi bales pake lagu paling praktis

Marah marah di internet, udah pasaran
Ngomel ngomel di pasar kagak sabaran
Kaya cacing kepanasan jenggot kebakaran
Rasanya gatel pengen ngasih tamparan

Tapi gue orang nya cinta damai
Walau rasanya sulit untuk santai
Amunisi di samping nyiur melambai
Pakai musik rap ku siap membantai

Memang satu rumpun masih sama melayu
Tapi melayu saykoji keras dan gak kemayu
Selendang rocker ku agak mendayu
Tapi coba ajak gue battle rap ayuk!

You copy my style
You copy again
Apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
Ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
But sooner or later I gotta take my stand




Tuesday, February 16, 2010

Phantasmagoria: The Visions of Lewis Carroll

......In Victorian England.....
A haunted writer in an isolated castle is tormented by sleepless nights and visions of a girl named Alice. He finds himself becoming a symptom of his own invention.
“Now all my nightmares know my name.”
He is Lewis Carroll...
Terrified of what waits for him each night...






















Well, inilah movie berikutnya yang patut dinantikan!
Sebuah film bergenre horror - fantasy..
Judulnya saja udah bikin bergetar, "Phantasmagoria: The Visions of Lewis Caroll".
Dan kalo loe nanya siapa aktor yang bakal terlibat, tentu jawabannya ga bakal bikin kecewa..

Sebut saja..
Ada Tilda Swinton!
Tau kan..Yang jadi White Witch-nya Narnia,Elizabeth-nya Benjamin Button, dan Katie-nya Burn After Reading (itu film yang lucu, btw..).





















Tilda Swinton in Vivienne Westwood's dress.
Gila yah, gw baru nyadar bahwa Tante Swinton ini yang jadi Angel Gabriel di Constantine!
Aiih... Wajahnya yang dingin memang pantas memerankan tokoh-tokoh gaib gitu..


Juga ada model Inggris Lily Cole, yang ada di Imaginarium of Doctor Parnassus itu!
Di sini ia berperan menjadi Alice.






















Aduh, aduh.. Keren bangget fotonyaah! (sumber foto)
Model Inggris ini juga berwajah gaib, sehingga cocok untuk memerankan Alice yang menghantui penciptanya sendiri, Lewis Caroll.



Dan yang paling mengagumkan..
Movie ini diproduseri oleh..
Marylin Monroe!
Aih! Salah..Marylin Manson!
Dan si Oom Manson juga menjadi Lewis Caroll, si tokoh utama..!


















Tak lupa, juga muncul Evan Rachel Wood (pacarnya Marylin Manson) yang berperan sebagai alter-egonya Alice..






















Inilah Evan Rachel Wood, yang menurut rumor sejak 2007 menjadi kekasih Marylin Manson..




Wuiihh..
Oh,ya film ini dibuat berdasarkan script asli milik Lewis Caroll sendiri!
Aggh! Ga sabaarr..
Gw ragu sih, movie ini bakal muncul di bioskop Indonesia..
Hhhhhh..