Thursday, July 9, 2009

The Girls of Riyadh, a review























Buku ini, yang dipuji sejuta orang memang sudah lama diterbitkan di Indonesia.
Cetakan pertamanya diedarkan tahun 2007. Namun, entah mengapa ada tangan tak kasat mata yang selalu menghalangi niat gw untuk membeli buku ini saat gw sedang memandangi setiap buku di rak toko buku..

Tapi, gw yang sekarang sudah sedikit santai ini benar-benar lapar bacaan.
Jadilah gw “hanya” meminjam buku ini (setelah menjadi mahasiswa yang jauh dari rumah, kita otomatis akan tahu cara menghemat uang)..

Dan sayangnya, tangan tak kasat mata itu benar..
Sejuta pujian yang datang dari berbagai media untuk buku ini dicantumkan baik di cover depan, cover belakang, halaman pertama dan beberapa halaman lain.
Gw merasa akrab dengan iklan yang melimpah ruah ini.
Yap, betul! Seperti sampul DVD bajakan.

Begini, buku ini berisi kumpulan email dari si pengarangnya.
Cewe cuantiique yang bernama Rajaa Al Sanea.
Dia benar-benar brilian, karena berhasil menemukan tema kontroversial untuk novelnya.
Dan berhasil menemukan cara tak biasa untuk mempublikasikan bibit novelnya ini.

























Rajaa Al Sanea, si dokter gigi pengarang The Girls of Riyadh




Isi email-email dari Rajaa adalah tentang sahabat-sahabatnya yang mengalami nasib tak menyenangkan karena terlahir sebagai wanita Saudi.
Novel ini memberikan manfaat bagi pembaca yang bukan orang Saudi.
Karena, pembaca seperti gw ini akan berkata :”Wuiih, gilak amat peraturan di Saudi. Untung gw orang Indonesia, negara yang multireligi..Jadi peraturannya ga terlalu ketat..”.
Namun penduduk Saudi, terutama para kaum tua, akan menghujat mampuz ini novel.
Karena dianggap mencemari nama baik negaranya dan sekaligus membeberkan aib budaya Saudi ke seluruh dunia.

Memang dari segi ilmu pengetahuan, isi novel ini sangat bermanfaat.
Tapi, dampaknya ga dalem buat orang yang bukan orang Saudi.
Orang dari Mesir, Qatar atau Dubai pun tak akan sepaham orang Saudi (karena setau gw di sana cukup liberal, juga banyak orang asingnya).
Apalagi gw yang orang Indonesia.
Sulit untuk memahami kebudayaan yang superkolot seperti itu..

Satu lagi kelemahan novel yang “berdasarkan kisah nyata” ini.
Ceritanya ga sistematis, mungkin karena dikirimkan lewat email seminggu sekali.
Jadi si penulis mungkin udah ga mood melanjutkan bahasannya yang awal. Nah, di novel yang memiliki 406 halaman ini, sulit untuk memutuskan yang mana yang bagian klimaksnya...

Selain itu, di novel ini cerita utamanya adalah mengenai 4 cewe. Tentu saja gampang mengingatnya.
Namun ada banyak tokoh laki-laki. Sangat banyak. Ampe gw pusing membedakannya masing-masing. Dan mereka hanya mendapat sedikit kesempatan tampil. Karena para lelaki ini dengan mudah mencampakkan 4 cewe itu..

Novel ini ga gw sarankan bagi kaum pria. Terutama pria yang “anak manis” yang selalu menuruti kata keluarga. Novel ini akan menjadi belati tajam yang menusuk dalam harga diri kalian.
Jadi, jangan dibaca...
Karena, sepanjangan cerita isinya adalah tentang cewe yang patah hati karena cowo yang brengsek atau yang ga berani menentang keinginan keluarga. Sungguh, cape gw bacanya.
Percaya d. Di negara ini, apalagi di negara lain yang lebih berwawasan luas, ada banyak cowo yang ga seperti itu. Bukannya gw antifeminis. Tapi gw percaya akan cinta sejati.

Makanya menurut hemat gw, pacaran itu perlu. Tapi zaman sekarang banyak orang-orang yang maunya langsung menikah tanpa pacaran dulu.
Seperti membeli kucing dalam karung.
Pendapat gw agak ekstrem, tapi..aneh sekali cinta yang baru dimulai setelah pernikahan dilangsungkan..Gw sih bukan orang yang bisa “merekayasa“ cinta..

Etts..gw jadi emosi...
Kelemahan terakhir dari novel ini adalah : endingnya yang berarakan..
Pada awal cerita, fokus novel ini adalah protes terhadap budaya kolot Saudi dan garis keras Islam.
Tapi, di endingnya sama sekali ga ada kesimpulan apa-apa mengenai hal tersebut.
(yang jelas mereka tetap menjadi tawanan budaya kolot masyarakatnya).
Aneh..

Makanya gw ga suka buku yang ada embel-embel : “KISAH NYATA” atau “BASED ON TRUE STORY”.
Gw lebih memilih mengubur diri dengan cerita fiksi yang indah, sistematis dan penuh pesan moral...

No comments: