Wednesday, December 16, 2009

Heretic, a review






















Yang akan Anda baca dalam artikel ini adalah bahasan mengenai sebuah novel gaib.

Kenapa novel ini disebut gaib?
Karena penulis sama sekali tak pernah menemukan novel ini di rak semua toko buku yang pernah didatanginya.
Tapi tiba-tiba, di suatu waktu yang tak terlupakan, novel ini teronggok di sana, di meja pendek tempat buku obralan.
Alasan apa yang membuat bagian penjualan toko itu mengobral buku ini, penulis sama sekali tak mengerti, atau lebih tepatnya tak mau peduli.


Yang penting, saat penulis menatapnya, novel karangan Sarah Singleton ini balas menatap penulis dengan mata personifikasi yang berkaca-kaca..
Dan kemudian, tentu saja tanpa pikir panjang penulis langsung menyambar buku itu (dan membawanya ke meja kasir, tentunya. Sudah tentu penulis tak bermaksud untuk mengutil).

Menurut penulis (yang hingga kini masih tertegun membisu memikirkan betapa kacaunya dunia dalam novel Mrs. Singleton ini), kegilaan dunia religius dalam Heretic jauh lebih sinting dibandingkan dengan novel ternama Da Vinci Code.

Dalam novel ini semua keyakinan, semua fanatisme, dijungkirbalikkan dengan sempurna.
Hal yang istimewa adalah ; jika Dan Brown suka mencampuradukkan IPTEK, agama dan seni, Sarah Singleton memilih untuk mencampur fanatisme terhadap religi dengan fantasi atau dongeng.























Sarah Singleton, Sang Pengarang kreatif dengan dandanan yang kreatif pula.




Novel ini berkisah tentang Elizabeth Dyer, seorang gadis polos & baik hati dari keluarga Katolik. Setelah mengalami masa kejayaan, agama Katolik kemudian jatuh ke dasar kemelaratan. Karena pada tahun 1584 Parlemen Inggris menyatakan bahwa menjadi pastor Katolik merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Ratu.
Perubahan religi yang drastis pada masyarakat Inggris ini menyebabkan keluarga-keluarga Katolik di sana minimal dikucilkan oleh tetangganya.
Banyak juga penganut Katolik yang dieksekusi tanpa pengadilan yang bersih.
Keluarga Dyer merupakan pedagang berkecukupan yang tadinya dihormati, akhirnya dikucilkan akibat agama yang mereka peluk.
Tapi Elizabeth dan seluruh keluarganya tetap teguh berpegang pada iman mereka.




Keteguhan inilah yang mempersatukan takdir Elizabeth dengan Isabella Leland.
Isabella Leland bukanlah gadis biasa.
Elizabeth menemukannya di tengah hutan dekat biara rahasia dalam keadaan aneh.
Tentu saja.
Yang Elizabeth lihat adalah gadis berkulit hijau, berambut mirip jerami terfermentasi, berkuku lebih lancip dibandingkan gagak, dan bergerak seperti hewan liar.

Elizabeth ingin menjadi teman Isabella.
Tapi Isabella memang bukan gadis biasa.
Setelah diusut, Isabella ternyata adalah gadis yang berasal dari tahun 1200-an.
Berarti Isabella sudah berumur sekitar 300 tahun, namun sosoknya seusia dengan Elizabeth.
Selain itu, Isabella bukan pemeluk agama Katolik, atau Protestan, atau agama lain.
Isabella adalah putri seorang ‘wanita bijak’ (yang dituduh sebagai “penyihir”) yang hidup 300 tahun lalu.

Elizabeth sudah cukup membenci pemeluk Protestan yang mempersulit hidup keluarganya, yang telah memenjarakan ibunya & meneror kakaknya di universitas.
Kini Elizabeth yang selalu diajarkan tentang ketuhanan berjumpa dengan Isabella, yang bisa dikatakan tak beragama.
Manakah yang lebih baik?
Berpura-pura merendah di hadapan orang yang berbeda agama?
Atau bersahabat dengan Isabella yang tak beragama?




















Sarah Singleton sedang mengiklankan novelnya yang berjudul Century.
Novel beken lain karangan si Tante adalah Heretic, Sacrifice dan yang terbaru : Amethyst Child.





Novel ini juga berkisah mengenai Kit Merrivale, pria Protestan bawahan Sang Ratu, yang melakukan apapun (termasuk membunuh orang) demi mempertahankan jabatan tingginya.
Namun dia mengatakan bahwa semua itu demi Ratu & demi agamanya.

Ada satu dunia lagi yang bersimpangan dengan takdir 3 orang di atas.
Yah, itu adalah dunia Kaum Gagak. Dunia peri.
Dunia yang ternyata tumpang tindih dengan dunia manusia, dan merupakan dunia yang telah memberikan perlindungan bagi Isabella & adik kecilnya dari kejaran manusia yang mengaku fanatik terhadap agama mereka.
Isabella dan adiknya disembunyikan Kaum Gagak setelah eksekusi ibu mereka yang dituduh sebagai penyihir oleh pengadilan yang mengaku bekerja atas nama suatu agama.

Isabella membenci manusia, tapi tetap tak bisa mengalihkan pandangan dari dunia kita.
Karena sebagian dirinya adalah manusia.

Elizabeth takut & jijik terhadap hal-hal yang berbau ilmu hitam, tapi dia menyukai Isabella sebagai manusia biasa. Akankah persahabatan mereka lebih unggul dibandingkan fanatisme religi?

Kit Merrivale hanya berpikir secara logis & skeptis. Dia menyembunyikan ketamakan duniawinya & berkedok menjalankan tugas mulia agamanya. Akankah dia sadar bahwa nasibnya berada di tangan Kaum Gagak (yang dia pikir hanya ada dalam dongeng)?

Ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari novel ini.
Tapi ada satu kesimpulan gila yang menggelitik perasaan penulis.
Sayangnya, menceritakan hal itu berarti membocorkan rahasia berharga yang ada di dalam Heretic.
Jadi sepertinya penulis tak akan membahas hal itu di sini.
Silakan, cari dan baca saja buku istimewa pemenang Booktrust Teenage Prize ini.

Moral utama dari Heretic yang penulis rasakan adalah ;
“Betapa jalan pikiran manusia itu sangat sempit & terkotak-kotak.
Betapa kita mengambil kesimpulan terlalu dini, tanpa mempedulikan kemungkinan-kemungkinan sederhana yang tersimpan.
Dan betapa fanatisme yang digugurkan akan membuahkan kegilaan bagi penganutnya.”



End Note :
Heretic adalah orang yang memiliki opini bertentangan dengan pihak ortodoks, atau memiliki kepercayaan agama yang berbeda dengan Gereja yang berkuasa.
Diambil dari kata Yunani, “hairesis” yang bermakna “memilih mengingkari kebenaran”.
Pertanyaan penulis adalah ; Siapalah di dunia ini yang tahu bahwa yang disebut sebagai “kebenaran” itu sungguh-sungguh “benar”?

No comments: