Saturday, April 11, 2009

Laparotomy

Laparotomi berasal dari kata laparo yang berarti abdomen, dan dari kata tomy yang berarti penyayatan.
Jadi, pengertian laparotomi secara umum adalah penyayatan pada dinding abdominal atau lapisan peritoneal, sehingga dapat mencapai organ-organ visceral secara langsung.
Organ abdominal yang dapat ditemukan antara lain organ pencernaan, organ urinarius, organ reproduksi, serta organ limfatik.

Berdasarkan daerah penyayatan, laparotomi dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
laparotomi medianus, paramedianus, inguinalis, dan pararektus.
Berdasarkan target organnya, laparot
omi medianus dibagi menjadi dua jenis, yaitu laparotomi medianus anterior dan posterior.
Laparotomi medianus anterior bertujuan untuk mencapai diaphragma, hati, lambung, ginjal, sebagian usus halus, dan ovarium. Sedangkan laparotomi medianus posterior dilakukan untuk mencapai uterus, sebagian usus halus, vesica urinaria, dan kelenjar prostat.



Alat dan bahan yang digunakan dalam operasi ini adalah :

a. Perlengkapan pembedahan minor seperti :
1. Alat cukur

2. Jarum suntik
3.
Towel clamp (4 buah)
4. Pinset anatomis dan sirorgis

5.
Scalpel dan blade
6. Gunting lurus–lurus (bermata tumpul
dan runcing)
7
. Gunting lurus-bengkok
8.
Artery clamp (anatomis dan sirorgis)
9.
Needle holder
10. Jarum jahit (berpenampang segitiga dan bulat)

11. Benang jahit (
Cat gut dan Silk)

b. Meja alat bedah
c. Meja operasi

d. Lampu operasi

e. Perlengkapan operator dan asisten berupa :

1. Penutup kepala

2. Masker

3. Sarung tangan

4. Baju operasi atau jas lab
5. Sikat

f. Stetoskop
g. Termometer



Adapun obat-obatan yang digunakan antara lain :
a. Xylazine HCl 2%, dosis 1-2 mg/kg BB.
b. Ketamine HCl 10%, dosis 15 mg/kg BB.

c. Atropin sulfat sebagai premedikasi jika hewan tak dipuasakan. Dosis : 0,03-0,04 mg/kg BB.

d. Antiseptik :

1. Alkohol 70%, aplikasi secara topikal.

2. Yodium tinctur 3%, aplikasi secara topikal.


e. Antibiotik
a :
1. Amoxicillin 20 mg/kg BB, aplikasi per oral.

2. Oxytetracyclin 20%,14 mg/kg BB, aplikasi secara intramuscular.

3. Penicillin 50000 IU(
ditetesin)

f. Antidota : yohimbin 1,25 mg/ml, dosis 0,1-0,25 ml/kg BB

g. Hemostatikum : adona 1,25 mg/ml, dosis 1-
2 mg/kg BB
h. Cairan infus jika di
perlukan.



































IV. TEKNIK OPERASI
a. Preparasi hewan

1. Sebelum operasi, dilakukan pembiusan pada hewan dengan menggunakan Xylazine HCl
2%, dosis 1-2 mg/kg BB dan Ketamine HCl 10%, dosis 15mg/kg BB. Jika hewan tidak dipuasakan, perlu diberikan atropin sulfat dengan dosis 0,03-0,04 mg/kg BB 10 menit sebelum pemberian Xylazine HCl dan Ketamine HCl.
2. Dilakukan pencuku
ran kira-kira 5-10 cm di sekitar bidang sayatan, dengan arah pencukuran yang berlawanan dengan arah tumbuhnya rambut.
3. Bagian yang dicukur dibersihkan dengan alkohol 70% dan desinfeksi dengan yodium tinctur 3% atau Betadine.
4. Hewan yang telah siap dibawa ke meja operasi, dan diposisikan sesuai dengan kebutuhan operator.
5. Ekstrimitas hewan diikat dengan simpul tomfool kemudian diikat pada masing-masing kaki meja operasi.

6. Hewan ditutup dengan duk atau kain penutup dan siap dilakukan operasi.


b. Operasi :
Daerah orientasi meliputi daerah ventral abdomen melalui linea alba di sebelah anterior antara xiphisternum hingga caudal umbilicus. Linea alba merupakan garis putih yang menghubungkan cartilago xyphoideus dan tendon pubis.


Adapun langkah-langkah operasi yang dilakukan yaitu ;
1. Dibuat sayatan pada kulit dan subkutis di daerah linea alba. Sayatan dibuat lurus dan tak terputus-putus dengan menggunakan scalpel, kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan (posisi ujung yang tumpul di bawah) ke arah cranial.
2. Ruang abdomen akan terlihat setelah peritoneum disayat. Pada awalnya akan terlihat omentum, kemudian terlihat organ-organ abdominal.
3. Setelah dilakukan ekplorasi terhadap or
gan-organ tersebut maka ruang abdomen dapat ditutup kembali.
4. Penicillin 50000 IU diberikan pada ruang abdomen sebelum dijahit.

5. Dilakukan penjahitan dengan metode jahitan sederhana atau kontinyu untuk petoneum/peritoneum dengan aponeurose/peritoneum dengan otot menggunakan bena
ng cat gut 3/0.
6. Kulit dan subkutis atau subkutis dan lemak kemudian kulit dijahit dengan
metode jahitan sederhana atau kontinyu menggunakan benang silk 3/0.
7. Bekas jahitan diolesi dengan yodium tinctu
r 3% dan ditaburi dengan sulfa talk, setelah itu ditutup dengan kasa dan perban.
8
. Disuntikkan Oxytetracycline secara intramuscular dengan dosis 14 mg/kg BB. 9. Pasangkan gurita yang telah dibuat dari kain kafan dan dilubangi berdasarkan posisi kaki.



3 comments:

chrisenta said...

such a good thing to write your experience there... just wonder that veterinarian world in indonesia being better in these years....

semangat yawh buat nulis semua tentang kedokteran hewan...

VIVA VETERINER

bobby,FKH IPB

Pratiwi Kusumaningtyas said...

yah ampun..ini ada si Bobby..
Sorry banget gw baru nelusurin comment2 yg ada..
IyupH!
VIVA VETERINER..

[sekalian kalo mao nyontek laporan kan juga bisa..hikhikhik..]

bisnismartian said...

tak baca bener2 neh notenya sebelum ujian bedah hari ini hehe

thx b4

-martian-FKH41 IPB