Friday, June 11, 2010

Mama Rocker Fest II 2010, a review





















Sungguh tak pernah mudah jika punya 2 kehidupan yang bertolak belakang..
Menjalani kehidupan A dengan serius bisa membuat kita lupa akan kebahagiaan menjalani kehidupan B.
Yah, gw pun kadang-kadang lupa tentang kebahagiaan bermusik kalo terlalu serius menjalani kehidupan koas yang jungkir-balik.

Namun, gw tetap harus bersyukur karena banyak hal yang bisa mengingatkan gw tentang jati diri sejati.
Salah satunya adalah progress latihan untuk acara Mama Rocker Festival 2 yang digelar tanggal 13 Juni 2010.

Di setiap latihan (baik saat latihan sendiri maupun bareng-bareng), gw diingatkan bahwa hidup ini sudah terikat erat dengan musik..
Bagi gw, jalan untuk mengekspresikan diri adalah lewat seni.
Dan bidang seni yang paling gw cintai adalah musik (meski gw juga bahagia saat menari, menggambar, melukis, bikin puisi, etc)..
Bayangkan, kadang-kadang gw lupa akan hal ini!
Ckckckck...


Di acaranya Mas Awi ini, D*S bawain 3 lagu (tadinya sih nyiapin 6 lagu) saja.
Urutannya adalah Ragnarock - Silhouette - Redrum.
Btw, Shilouette ini adalah single terbaru D*S, dan merupakan lagu pertama yang berbahasa Indonesia, dan juga lagu pertama yang bertemakan cinta.
Tapii.. Dijamin 100%, liriknya ga bakal nyampah ato alay koq..

Karena takut kena kemacetan arus balik liburan di tol Jagorawi, kami memutuskan untuk berangkat dari Bogor jam 4 sore.
Padahal D*S kebagian main jam 21.30 WIB..
Tapi, berkat dateng cepet, kami bisa tenang-tenang memperhatikan performance dari rekan band yang lain, bisa makan malem tepat waktu dan bisa make-up-an dengan tenang.
Meskipun kali ini kami semua meninggalkan kostum ribet itu dan memutuskan untuk memakai kaos terbaru D*S..

Setelah tiba di Lissoi Cafe, gw jadi bernostalgia mengingat zaman masih di band gw yang terdahulu.
Karena, waktu itu kami sering sekali main di cafe mirip Lissoi ini..
Atmosfernya sangat-sangat khas sekali, meskipun semakin malam gw semakin hampir mati tercekik awan kinton yang terbuat dari asap rokok.



FYI, banyak banget band keren yang main di Mama Rocker Fest II.
Dan ga semuanya merupakan band J-Indo..
Ada juga band genre lain seperti Joni Kemon (dari Bogor juga loh..) yang ikut meramaikan Minggu malam itu.

Alhamdulillah, ga banyak problem besar (atau perasaan gw doank yak?) yang terjadi saat D*S main, selain :
1. Drumnya Roku begitu ketakutan melihat manusia yang bakal menggebuknya. Jadi, Sang Drum Set semakin menjauh saat digebuk-gebuk..
Hal ini memberikan dampak negatif bagi tempo musik yang kami mainkan.

2. Volume gitar Dowe toa bangget di Ragnarock..
Untungnya ada stage manager kami yang murah hati, Aya, yang dengan ikhlas mencolek-colek Dowe & memberi saran untuk mengecilkan volume gitarnya.

3. Selot boots gw (engg.. sejak kapan sepatu ada selotnya?) lepas-lepas trus sepanjang on stage.
Tadinya gw merasa risih, dan pengen mbetulin itu sepatu. Tapi karena Kira memberikan kode "Cuek aja", gw akhirnya cuek bebek dengan kondisi sepatu agak berantakan ituh..
Tapi, gw harus bersyukur karena ga ada insiden gw keserimpet & jatoh karena selot yang melambai-lambai ituh.
Moga aja yang ngeshoot video ga nyorot ke bagian kaki gw..
Hix..

4. Masalah yang teringet di otak gw kini baru segitu doank sih.
Mungkin ada saran dan masukan atau tambahan dari pembaca blog ini, silakan tulis di comment yah!


Ow,yah..
Gw mendengar isu pasca event yang kurang baik mengenai acara Mama Rocker ini..
Entah apa yang memicu beredarnya kabar burung itu..
Namun, gw cuma pengen menjabarkan opini gw sendiri sebagai musisi sekaligus sebagai penonton di event ini (karena gw juga menonton aksi keren band-band lain).

Begini, gw memang baru mengenal dunia panggung-memanggung selama 8 tahun saja.
Namun, selama 8 tahun itu gw pernah merasakan jadi panitia acara, pengisi acara maupun penonton suatu acara.
Pada awalnya, sudut pandang gw begitu sempit dan picik.

Misalnya, saat menjadi panitia, gw bakal ngedamprat atau maki-maki band yang telat atau mainnya jelek atau yang mbawain lagu ga sesuai tema acara..
Sebaliknya, saat jadi pengisi acara, rasanya pengen nyekek panitia yang bloon, lelet dan atau ga berpengalaman saat muncul konflik selama acara..
Nah, saat jadi penonton, biasanya emang enak banget kalo bisa ngata-ngatain panitia maupun pengisi acara jika acaranya garing atau ga meaning.

Memang.. yang enak itu, ya jadi penonton saja.
Loe ga bakal disalahkan saat terjadi hal-hal buruk pada suatu acara..
Dan ga punya tanggung jawab untuk membuat acara jadi rame bin asik..
Dan lagi, loe bebas mengkritik pedas baik panitia maupun pengisi acara yang loe anggap buruk sekali performanya.
Tanpa perlu mengkhawatirkan apapun!!


Namun, berada di posisi yang berbeda-beda dalam waktu 8 tahun akan membuat loe sadar..
Bahwa menjadi panitia acara itu ga gampang, meskipun kita dikaruniai otak secerdas apapun.
(Karena loe harus bisa berkoordinasi dengan banyak pihak dengan berbagai karakter berbeda).

Bahwa menjadi musisi itu bukan hanya mengharapkan ditonton orang banyak saja...
Mungkin mulai malam itu, gw jadi sadar bahwa jumlah penonton bukanlah hal yang penting bagi para performer.
Yang paling penting tentunya kualitas penonton, serta komunikasi yang terjalin antara performer & penonton tersebut..

Dan loe akan sadar, bahwa menjadi penonton suatu acara itu BUKAN HANYA MENONTON performa panitia & pengisi acaranya saja.
Kalo loe HANYA MENONTON, bukannya menyimak dengan paradigma yang bijak, tentunya loe bakal merasa rugi buang-buang uang untuk beli tiket.


Sebagai penonton, gw suka sekali menyimak hal-hal kecil nan sederhana dari pengisi acara yang sedang on stage.
Sebab, kalo loe GA MENYIMAK, loe ga bisa menyerap energi yang dihasilkan dari performer tersebut.
Sebab, kalo loe GA MENYIMAK, loe ga bisa mengerti apa yang disampaikan dan ga mengerti usaha keras Sang Performer untuk mempersiapkan penampilan hari itu.

Hal yang wajar kalo gw menangis terharu saat menonton konser Ayu yang memang serba canggih dan keren banget.
Mungkin wajar pula kalo gw menangis saat nonton performance ArchEnemy Oktober tahun lalu..
Tapi, bahkan gw menangis saat menyimak tarian Pepen saat manggung bersama Umaku Eisa Shinka beberapa tahun lalu..
Kalo gw ga menyimak dan ga menyerap spiritnya Pepen, mana mungkin gw bisa menangis karena tersentuh??
Karena gw ga ngerti lagu ataupun musiknya..

Berkaitan dengan isu negatif yang sering terdengar tentang acaranya Mama Rocker ini..
Tahukah kalian wahai penyebar isu, bahwa mungkin saja gara-gara acara ini muncul sebuah band berbakat yang bisa menyelamatkan industri musik Indonesia dari kehancuran a.k.a pembodohan?
Tahukah kalian, bahwa mungkin setelah menonton acara ini, telah tumbuh kepercayaan diri baru di diri seseorang yang tadinya minderan?
Terpikirkah oleh kalian, bahwa ada orang unable atau orang dengan keuangan minim yang berusaha keras datang ke acara ini untuk menonton atau mendukung band favoritnya?

Dan.. apakah kalian pernah berpikir, bahwa ada band yang baru memulai kariernya dari acara ini dan berharap mendapat dukungan penonton?
Atau, tahukah apa saja yang sudah dikorbankan dan diusahakan semua pihak yang terlibat demi terselenggaranya acara ini?
Mungkinkah kalian mengerti, jika ada orang yang belajar mengenai makna suatu performance setelah hadir di acara ini?


Dan tahukah kalian, mungkin saja ada orang yang memahami arti jadi musisi sejati setelah datang ke acara ini?

Mungkin sebaiknya hentikan kebiasaan kalian yang menilai sesuatu hanya dari kulit arinya saja..
Dan, mengertilah.. Ketenaran instan tanpa usaha keras itu tidak ada harganya..

2 comments:

kiraDS said...

coba liat fbku sm http://www.facebook.com/milana.lau?v=wall&story_fbid=129873810375127 d yang., bahasannya panjang., X)

bikin cafe yg ky club house jepang gt yuk, biar qt bs bikin acara :D

Pratiwi Kusumaningtyas said...

yux yux yang...
makanya nabung mulai sekarang..
jangan boros..