Monday, June 28, 2010

Laporan Praktik Lapang di CERY Farm - Juni 2010

PENDAHULUAN


Latar Belakang
Peternakan merupakan salah satu sektor dalam pertanian Indonesia yang cukup menjanjikan. Usaha peternakan sapi di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu peternakan sapi perah dan peternakan sapi potong. Peternakan sapi perah bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang tinggi dengan kualitas yang baik untuk menunjang kecerdasan bangsa. Seiring dengan peningkatan taraf hidup dan pendidikan masyarakat di Indonesia, kesadaran akan pemenuhan gizi yang baik juga meningkat. Hal ini mengakibatkan permintaan akan produk-produk protein hewani seperti susu bertambah. Untuk mendapatkan produksi susu yang tinggi dan berkualitas perlu pengelolaan yang baik dari semua aspek. Faktor penting dalam pengelolaan sapi perah adalah sanitasi, pakan, manajemen reproduksi, dan manajemen kesehatan hewan.
Keberhasilan suatu peternakan bergantung pada kemampuan reproduksi ternak. Pada peternakan sapi perah diperlukan manajemen reproduksi yang baik agar menghasilkan keturunan dengan tingkat produktivitas susu yang tinggi. Manajemen reproduksi yang kurang baik dapat menyebabkan terjadinya kegagalan seekor ternak untuk bunting pada satu atau lebih perkawinan, serta penurunan kuantitas serta kualitas pedet yang dilahirkan.
Partodihardjo (1987), menyatakan bahwa evaluasi keberhasilan reproduksi ternak harus memperhatikan sistem pencatatan (recording) ternak yang berisi keterangan mengenai ternak, umur pertama kali dikawinkan, pengamatan terhadap berahi, deteksi kebuntingan, perkawinan kembali setelah melahirkan, saat perkawinan yang tepat, dan fertilitas jantan yang digunakan. Selain itu harus dicatat angka service per conception, non return rate, conception rate, dan calving interval. Hal-hal tersebut digunakan untuk mendapatkan data mengenai manajemen reproduksi.
Seabagai usaha untuk memperdalam ilmu di bidang peternakan terutama mengenai manajemen reproduksi sapi perah, program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor mengadakan kerjasama dengan Cisarua Eryf Dairy Farm (CERY Farm) sebagai salah satu lokasi magang mahasiswa PPDH FKH IPB. Program magang ini dilakukan guna mempersiapkan para calon dokter hewan yang terampil dan profesional dalam bidang manajemen reproduksi.

Tujuan
Tujuan dilaksanakannya kegiatan magang ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman mahasiswa program profesi dokter hewan (PPDH) di Bagian Reproduksi dan Kebidanan dalam menangani manajemen kesehatan reproduksi dan pemeliharaan hewan.

Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari kegiatan praktik lapang ini antara lain, menjalin hubungan baik antara IPB umumnya dan FKH khususnya dengan pihak lain dalam pengembangan inovasi modern dan aplikatif di bidang peternakan, meningkatkan ilmu pengetahuan, skill serta pengalaman kerja dalam bidang peternakan sapi perah terutama manajemen reproduksi. Selain itu, mahasiswa dapat mengetahui manajemen peternakan sapi perah mencakup manajemen pemeliharaan, manajemen kesehatan dan manajemen reproduksi serta meningkatkan pengetahuan dalam pendeteksian estrus, melakukan penyusunan program breeding populasi dan sterility control pada sapi perah.


WAKTU DAN TEMPAT

Waktu Pelaksanaan dan Lokasi Kegiatan
Kegiatan magang ini dilaksanakan pada tanggal 14–19 Juni 2010 di Peternakan Sapi Perah Cisarua Eryf Dairy Farm (CERY Farm), Desa Cibeureum, Cisarua, Jawa Barat.

Metode Pelaksanaan Kegiatan
Metode pelaksanaan kegiatan magang di Cisarua Eryf Dairy Farm (CERY Farm) adalah :
1. Mengikuti dan mempelajari seluruh kegiatan operasional CERY Farm meliputi manajemen reproduksi, pemeliharaan sapi perah, pengobatan serta perawatan sapi sakit.
2. Pendalaman ilmu dan pemahaman mengenai sapi perah dengan cara berdiskusi dengan pemilik, petugas lapangan serta petugas kandang.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Lokasi Kegiatan
Peternakan Cisarua Eryf Dairy Farm (CERY Farm) merupakan salah satu usaha peternakan yang dilakukan secara wirausaha. Peternakan ini berlokasi di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Peternakan ini didirikan oleh H. Eryf pada tahun 1986 di atas lahan seluas ± 1600 m2 dan berada pada ketinggian 900 meter diatas permukaan laut dengan jumlah ternak awal sebanyak 6 ekor. Luas lahan untuk peternakan ± 1600 m2 dan untuk penanaman rumput ± 1 Ha. Jumlah sapi perah sampai bulan Juni 2010 berjumlah 154 ekor dengan rincian kelompok dewasa berjumlah 105 ekor, sapi dara berjumlah 16 ekor dan pedet berjumlah 33 ekor.



Mulai tahun 2007 sampai sekarang CERY bekerjasama dengan PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory). Pegawai yang bekerja pada peternakan ini berjumlah 24 orang. Setiap orang pekerja bertanggung jawab atas 8 ekor sapi betina dewasa dengan tugas memerah, memandikan, membersihkan kandang, dan memberi pakan. Selain itu, terdapat 2 orang petugas yang bertanggung jawab atas kandang pedet dan kandang dara. Sejak tahun 2009, sebanyak 70 liter susu diolah menjadi yoghurt dan mulai dipasarkan dengan merek dagang E-Yoci. Jumlah pegawai yang bertanggung jawab atas pengolahan susu dan yoghurt tidak termasuk ke dalam jumlah pekerja yang telah disebutkan sebelumnya.



Manajemen Kesehatan Hewan
Kesehatan hewan merupakan faktor penting untuk menunjang keberlangsungan produktivitas sapi yang lebih stabil. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan hewan adalah dengan melakukan vaksinasi. Pada peternakan CERY ini dilakukan vaksinasi brucellosis dengan menggunakan vaksin RB-51, dan dilakukan pada saat sapi berusia 6 bulan dan diulang saat sapi pubertas. Selain itu juga diberikan vaksinasi anthrax dan Septicemia Epizootica (SE) 1 tahun sekali.
Kesehatan sapi juga tergantung dari fasilitas kandang yang tersedia. Karpet kandang merupakan salah satu sarana yang dapat mengurangi resiko terjadinya gangguan alat gerak tubuh sapi akibat benturan atau trauma fisik pada lantai kandang. Selain itu dengan adanya karpet, ternak merasa lebih nyaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya tahan tubuhnya. Sehingga secara jangka panjang dapat mempertahankan kondisi sapi tetap sehat. Apabila terjadi trauma pada sapi, diberikan alas tambahan berupa serbuk gergaji yang bertujuan agar trauma tidak menjadi lebih parah.
Peternakan CERY ini tidak memiliki dokter hewan tetap yang menangani segala kasus penyakit yang terjadi. Apabila ada kasus penyakit, maka pemilik peternakan akan menangani sendiri kasus yang terjadi. Namun apabila kasus yang terjadi dirasakan berat untuk ditangani, maka pemilik akan memangil dokter hewan yang berwenang di daerah tersebut untuk membantu menangani kasus.
Saat program praktik lapang berlangsung, dilakukan penanganan terhadap 5 kasus penyakit yang ditangani oleh pemilik peternakan. Adapun kasus penyakit yang ditemui yaitu mastitis, hipokalsemia post partus dan abses pada kaki belakang. Penanganan yang dilakukan pada sapi mastitis adalah dengan memberikan antibiotik trimetroprim-sulfa intramamari 2 hari sekali sebanyak 3 kali pemberian. Selain itu diberikan antibiotik long acting Oksitetrasiklin secara intramuskuler. Pada kasus ini sapi tetap diperah dan susu yang diperoleh diberikan kepada pedet. Untuk mempercepat proses persembuhan, dilakukan pencelupan puting dalam iodine yang telah diencerkan sesudah dilakukan pemerahan.
Terdapat dua kasus post partus yang ditangani. Kasus pertama terjadi 4 hari setelah partus, kasus ini diawali dengan kejadian hipokalsemia. Penanganan yang diberikan adalah dengan memberikan infus kalsium, selain itu juga diberikan anibiotik oksitetrasiklin intramuscular yang bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi pada uterus. Penanganan kasus ke-2 dilakukan 12 jam sesudah partus. Pada kasus ini uterus masih terbuka lebar sehingga pemberian antibiotik dilakukan secara intrauteri dalam bentuk bolus. Selain itu untuk mempertahankan kondisi tubuh agar tetap stabil maka diberikan suntikan vitamin secara intramuscular.
Terdapat dua jenis kasus abses yang ditangani, yaitu abses terbuka dan abses tertutup. Pada abses terbuka dilakukan penyuntikan antibiotik penisilin-streptomisin pada tepi abses. Pemberian antibiotik dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval 2 sampai 3 hari. Selain itu dilakukan kompres panas sebanyak 2 kali sehari yang dimulai dari bagian dorsal abses hingga daerah sekitar abses, dengan tujuan untuk memperlancar vaskularisasi didaerah abses. Setelah dilakukan kompres panas dilanjutkan dengan pemberian salep antibiotik pada luka yang terbentuk akibat abses. Sedangkan pada abses tertutup penyuntikan antibiotik tidak dilakukan pada daerah abses tetapi dilakukan secara sistemik dengan memberikan antibiotik penisilin-streptomisin melalui jalur intramuscular. Kompres panas tetap dilakukan sehari 2 kali tetapi diberikan salep antibiotik topikal. Untuk mempercepat proses persembuhan pada abses tertutup juga diberikan vitamin secara intramuscular.


Manajemen Kandang
Kondisi topografi tanah di lokasi peternakan CERY berbukit-bukit sehingga posisi kandang diatur dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Secara umum, posisi kandang dibedakan menjadi kandang atas, kandang tengah dan kandang bawah. Kandang atas dan tengah digunakan untuk sapi dewasa, dara, dan pedet diatas umur 6 bulan. Sedangkan kandang bawah digunakan sebagai kandang pedet.
Umumnya sistem kandang yang diterapkan di peternakan CERY adalah kandang dengan tipe tail to tail. Kandang yang terdapat pada peternakan CERY sebagian sudah mengalami perbaikan, tetapi ada beberapa kandang yang belum memenuhi syarat kenyamanan. Kandang yang telah mengalami perbaikan mempunyai luas kandang yang cukup dengan lantai kandang yang diberi alas karpet dan pada bagian tengah dari kandang dibuat saluran untuk mempermudah pembuangan limbah. Akan tetapi pada kandang yang belum mengalami perbaikan luas kandang cukup baik, namun lantai kandang tidak diberi alas karpet sehingga sapi rentan untuk jatuh. Selain itu ventilasi udara kurang baik sehingga faktor pencahayaan kurang.
Tempat pakan dan minum disesuaikan dengan bentuk kandang. Tempat pakan dan minum dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sistem perkandangan tidak membedakan status sapi baik status reproduksi maupun kesehatannya. Untuk sapi sakit dan sapi dalam masa kering kandang tidak ditempatkan pada kandang khusus, tetapi bercampur dengan sapi yang sehat dan sapi laktasi.




















Kondisi Pypy-pypy (sapi) yang abis lunch..

Manajemen Pakan
Pakan merupakan kebutuhan pokok ternak, dengan memberikan pakan ternak yang baik secara kualitas maka dengan sendirinya akan diperoleh hasil yang baik pula. Pakan ternak yang berkualitas diperoleh dari bahan baku dengan komposisi yang baik. Pada peternakan CERY ini pakan yang dberikan terdiri dari hijauan dan konsentrat. Rataan hijauan yang diberikan untuk 1 ekor sapi per harinya adalah 30 kg. Sedangkan rataan ampas tahu dan konsentrat yang diberikan untuk 1 ekor sapi per harinya adalah 15 kg dan 7,5 kg yang dibagi dalam 4 kali pemberian. Konsentrat yang diberikan terdiri dari 4,5 kg konsentrat pabrik, 1 kg jagung, dan 2 kg dedak. Hijauan yang diberikan terdiri dari rumput lapang, rumput gajah, dan king grass.


Sanitasi
Sanitasi pemeliharaan ternak sapi dilakukan dengan melakukan sanitasi kandang dan sanitasi pada sapi. Sumber air yang digunakan untuk sanitasi berasal dari air gunung. Sanitasi sapi dilakukan dengan memandikan dan menyikat sapi pada pagi hari sebelum dilakukan pemerahan. Hal ini menjaga agar kotoran yang berasal dari tubuh atau lingkungan tidak mengkontaminasi susu. Sedangkan sanitasi kandang dilakukan setelah memandikan sapi. Sanitasi kandang yang dilakukan adalah dengan membersihkan kotoran sapi yang ada di kandang. Proses pembersihan ini dilakukan dengan menyemprot bagian yang kotor dengan air mengalir.
Termasuk di dalam sanitasi sapi adalah sanitasi puting sebelum pemerahan. Sanitasi puting sebelum pemerahan dilakukan dengan pembilasan menggunakan desinfektan dan air hangat. Fungsi pemberian desinfektan adalah untuk mengurangi terjadinya kejadian mastitis, sedangkan pemberian air hangat bertujuan untuk membersihkan ambing dan juga melancarkan vaskularisasi pembuluh darah disekitar ambing sehingga susu dapat keluar lebih lancar. Selain itu sebelum memerah, tangan pemerah dioleskan vaselin yang berfungsi sebagai pelicin.



















Sistem kandang tail to tail di CERY Farm..
Tuh.. Kandangnya bersih banget kaan..?


Manajemen Perawatan Pedet
Pedet adalah anak sapi yang berusia 0–8 bulan. Pada peternakan ini pedet ditempatkan pada lokasi kandang tersendiri. Pedet dibedakan dalam 4 kelompok usia yaitu usia 0–2 bulan, 2–4 bulan, 4–6 bulan, dan >6 bulan. Kelompok-kelompok ini dibedakan berdasarkan pemberian pakannya. Untuk kelompok pedet berusia 0–2 bulan, pakan yang diberikan hanya berupa susu yang diberikan 2 kali sehari sebanyak 3,5 liter untuk setiap kali pemberian. Untuk kelompok usia 2–4 bulan, selain susu diberikan pula sedikit hijauan sebagai pakan tambahan. Hal ini bertujuan agar pedet mulai belajar mengenal hijauan dan untuk melatih pencernaannya. Untuk kelompok usia 4–6 bulan, pedet diberi susu induk, hijauan dan konsentrat yang telah dicampur dengan susu bubuk. Pedet berusia >6 bulan hanya diberi hijauan dan konsentrat yang telah dicampr dengan susu bubuk. Tujuan dari penambahan susu bubuk tersebut adalah sebagai penambah nilai gizi sekaligus sebagai pakan pengganti susu (milk replacer).


Manajemen Reproduksi
Sistem pencatatan (recording) di peterrnakan CERY cukup baik. Namun, data mengenai IB dan kelahiran masih kurang lengkap. Pengamatan terhadap birahi dilakukan oleh pekerja kandang. Gejala birahi yang umum dilihat oleh pekerja kandang adalah keluarnya lendir yang bening dari vulva, vulva bengkak dan merah, serta perubahan perilaku seperti sering berteriak, menjilati sapi lain, dan kurang nafsu makan. Pengamatan tanda-tanda birahi dilakukan pada pagi dan sore hari sesudah waktu pemerahan susu. Selanjutnya apabila ternak menunjukkan gejala birahi, maka pekerja kandang akan melaporkan kepada manajer. Manajer pada peternakan ini adalah pemilik peternakan yang bertanggung jawab dalam kesehatan dan reproduksi ternak. Kemudian setelah dilaporkan manajer akan melakukan inseminasi buatan pada ternak. Semen yang digunakan untuk IB adalah semen beku yang berasal dari balai inseminasi buatan lembang dan singosari.
Pelaksanaan kegiatan IB di peternakan CERY secara umum sudah cukup baik. Pekerja kandang dapat mengetahui gejala birahi dan melapor ke manajer yang juga berperan sebagai inseminator untuk dilakukan IB sesegera mungkin. Inseminator sudah mengikuti prosedur IB yang benar, seperti waktu IB yang tepat, membersihkan labia sebelum pemasukan gun IB, dan memasukkan gun IB secara hati-hati agar tidak menyentuh labia.
Menurut Toelihere (1980), penilaian hasil inseminasi dapat diukur dengan beberapa parameter seperti (1) Angka konsepsi (Conception Rate/ CR) yaitu persentase sapi betina yang bunting pada inseminasi pertama. Angka konsepsi ditentukan berdasarkan hasil diagnosa kebuntingan dalam waktu 40-60 hari post IB. Angka konsepsi ditentukan oleh 3 faktor, yaitu kesuburan pejantan, kesuburan betina, dan teknik inseminasi; (2) Jumlah Inseminasi per Kebuntingan (Service per Conception). Nilai S/C yang baik berkisar antara 1.6-2.0. Semakin rendah nilai tersebut maka semakin tinggi kesuburan hewan betina dalam kelompok dan sebaliknya, dan (3) Calving interval yaitu jarak antar kelahiran.

Nilai Conception Rate (CR) yang didapat di peternakan CERY adalah 84.6%. Angka ini berada di atas nilai standar keberhasilan IB yang ditentukan oleh pemerintah daerah Jawa Barat. Nilai standar CR di Jawa Barat adalah > 70%. Nilai S/C yang didapat adalah 1.15, angka ini juga berada di atas nilai standar keberhasilan IB yang ditentukan oleh pemerintah Jawa Barat. Nilai standar S/C di Jawa Barat adalah <>
Kebuntingan pada sapi dapat didiagnosa melalui palpasi perektal. Palpasi perektal dilakukan untuk melihat adanya perubahan pada organ reproduksi. Diagnosa memakai metode ini dapat dilakukan paling cepat 35 hari sesudah inseminasi. Ketepatan pemeriksaan dapat diatas 95% sesudah 60 hari masa kebuntingan (Toelihere 1980).
Karakteristik hewan betina bunting menurut Toelihere (1980) induk bertambah tenang, lamban dan hati-hati dalam pergerakannya sesuai dengan pertambahan umur kebuntingan. Ada kecenderungan pertambahan berat badan, ligament pelvis mulai mengendur, dan pada hewan yang kurus terlihat perlegokan yang jelas pada pangkal ekor. Kelenjar susu pada sapi dara berkembang dan membesar pada kebuntingan 4-5 bulan.

Indikasi yang pasti tentang adanya kebuntingan pada ternak sapi yang dapat ditentukan melalui pemeriksaan rektal adalah:
Palpasi secara halus dan hati-hati terhadap kantung amnion pada kebuntingan muda 35-50 hari.
Palpasi koruna uteri yang membesar berisi cairan plasenta dari hari 30-90 hari periode kebuntingan.
Fetal slip, alantochorion pada penjepitan terhadap uterus diantara ibu jari dan jari telunjuk pada 40-90 hari kebuntingan.
Perabaan dan pemantulan kembali fetus didalam uterus yang membesar yang berisi selaput fetus dan cairan plasenta.
Palpasi arteri uterine media yang membesar, berdinding tipis dan adanya fremitus.

Pada semua induk sapi uterus terletak pada rongga perut setelah bulan ke-4 periode kebuntingan. Pada sapi dara yang bunting 2-3 bulan, uterus sering terletak di rongga pelvis dan kornua yang mengandung fetus menunjukkan penonjolan dorsal. Pada bulan ke-5 dan ke-6 uterus tertarik ke depan dan ke bawah didalam rongga perut sehingga dalam beberapa kasus hanya servik dan arteri uterine media yang dapat diraba. Pada kebuntingan 6 dan 7 bulan, fetus menjadi cukup besar sehingga dapat diraba melalui palpasi perektal. Pada kebuntingan 8-9 bulan, fetus dapat terentang ke kaudal, sehingga hidung dan kakinya bertumpu pada rongga pelvis.
Pemeriksaan kebuntingan sapi di peternakan CERY dilakukan pada usia kebuntingan 1 bulan (± 30 hari). Pemeriksaan dilakukan berdasarkan catatan pemilik tentang kapan IB terakhir kali dilakukan.



SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Seluruh sistem manajemen peternakan CERY untuk standar peternakan rakyat telah berjalan cukup baik, baik dari segi manajemen kesehatan hewan, manajemen kandang, manajemen pakan, sanitasi, manajemen perawatan pedet dan manajemen reproduksi. Sistem manajemen yang berjalan dengan baik dapat meningkatkan produktivitas peternakan.

Saran
Diperlukan pencatatan (recording) reproduksi yang lebih baik terutama pencatatan IB dan kelahiran. Manajemen kandang lebih diperhatikan terutama masalah intensitas cahaya yang kurang dan kelembaban yang tinggi, serta kepadatan kandang.


DAFTAR PUSTAKA

Partodihardjo S.1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Cetakan Kedua. Jakarta : Penerbit Mutiara.
Toelihere MR. 1980. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung : Penerbit Angkasa.



















Bibiq Ajeng sedang menguleni konsentrat di bath ub..




















Kasus kuku Aladdin yang sering dijumpai di CERY Farm..
Abses juga banyak sih..

No comments: