Tuesday, February 16, 2010

The Punk, a review


Just gimme death..
Or i’ll kill your wife..
Had enough of the social security..
Had enough of life..
I want death..
Yeah, I want death..
Just gimme death!

“Death” by The Sick.
Dikutip dari novela The Punk oleh Gideon Sams.




Ada sebuah fase dalam hidup gw dimana muncul desakan hebat untuk menjadi berbeda.
Desakan ini memang terlalu ekstrem pada awalnya, dan kemudian memengaruhi gw untuk beralih dari mendengarkan top 40 menjadi ketagihan musik berbau punk, fashion punk, dan nyaris menyerempet attitude-nya (untunglah tidak!).

Untungnya keluarga gw ga protes macam-macam. Bahkan ketika melihat gw membeli buku ilmiah “Punk sebagai Suatu Subkultur” dan novel yang akan gw bahas berikut ini, kakak gw malah memberikan buku “Punk Shui” sebagai hadiah ultah ke-17..
Haha.
























Nah, marilah kita beranjak ke novel The Punk, yang ditulis oleh Gideon Sams.
Novel The Punk ini dirilis pada tahun 1977 di UK, dan mulai ditulis saat si Gideon berusia 14 tahun. Bocah punk ini lahir pada tahun 1962 dan memang sejak SD sudah menunjukkan bakat di bidang bahasa. Gideon menulis The Punk sambil menjadi tukang pizza di toko makanan bokapnya, dan sambil mengambil referensi dari majalah NME dan Melody Maker (rasa-rasanya akyu pernah dengar nama band seperti ini......)

Gideon Sams tergolong dalam kumpulan anak muda yang mendewakan Sex Pistols, terutama setelah peluncuran Anarchy in The UK. Selain menjadi tukang pizza, dia juga doyan bermain skateboard, kongkow sekalian mengonsumsi narkotika. Well, well...
Tapi (ga) herannya, niy bocah berumur pendek, Man! Setelah keberhasilannya merilis The Punk yang menjadi inspirasi banyak film, terutama The Punk and The Princess (1993), Gideon wafat dalam usia 26 tahun..Ckckckck...
























Oh,ya..kita belum membahas mengenai plot The Punk.
Btw, bukunya tipiiiss lohh..Hanya ada 58 halaman saja.
Yah, bagaimanapun juga ini adalah novel yang ditulis oleh bocah punk 14 tahun..

Inti ceritanya adalah kisah cinta tragis antara 2 insan punk (apa inii..??).
Well, jujur saja..Tadinya gw pikir ini novel terinspirasi dari tragedi Sid-Nancy..
Tapi setelah dipikir-pikir lebih dalam, ternyata duluan novelnya yang rilis baru Nancy tewas..
Lagian prinsip ceritanya beda koq..

Yah, hiduplah seorang pemuda bernama asli David, kemudian berubah nama menjadi Adolph, di Inggris Raya. Tidak disebutkan bagaimana si Adolph ini awalnya menjadi punk..
Pokoknya dia adalah cowo punk pada umumnya.
Penuh tindikan, rambut gaya bangun tidur, jaket plastik, seringai sinis, mata tajam, dan membenci segala hal di muka bumi ini.

Dalam 58 halaman ini, diceritakan bagaimana Adolph berusaha mencari kerja melalui Bursa Tenaga Kerja demi memperoleh uang sendiri.
Agar ia bisa ngibrit dari kungkungan orangtuanya di rumah.
Agar ia bisa memulai hidup mandiri, jauh dari teriakan ayahnya dan tangisan ibunya.
Akhirnya dia memperoleh pekerjaan di tempat pemotongan ikan..

Adolph memang kurang hoki saat menyadari bahwa ia jatuh hati pada Thelma, cewe Ted (dari kata Teddy Bear) yang cantik dan seksi. Sialnya lagi, Thelma ini adalah pacarnya ketua Ted di London. FYI, kaum Ted itu benci banget sama anak punk..
Tapi untungnya Thelma juga doyan dengan Adolph dan memutuskan untuk putus dengan Ned dan pindah aliran menjadi anak punk.

Namun hari itu..
Ketika Adolph & Thelma bergandengan tangan sepulang nonton konser Sex Pistols..
Mereka tak menyadari bahwa Ned menguntit..
Dan tanpa sengaja, Adolph membunuh Ned..

Kemudian, seperti yang dilakukan pada umumnya anggota gangster..
Teman-teman Ned membalaskan dendam pemimpin mereka beberapa hari kemudian..
Menjelmalah 2 insan punk yang saling mencintai ini menjadi 2 tubuh biru kaku di pinggir jalan London..
Membisu sambil menanti mobil polisi dan ambulans yang akan datang..


Yah, begitulah ceritanya!
Memang tujuannya adalah untuk menggambarkan kehidupan singkat anak-anak punk..
Di sini juga diceritakan tentang hobi mereka untuk saling mencabut tindikan sambil berpogo ria di suatu gig..Dan kebencian mereka terhadap apapun yang berbau kapitalis, termasuk Mick Jagger dan Ratu Inggris..























Maafkan saya sebagai orang awam..
Tetapi mau ga mau, kalo membaca novel ini pasti akan terbayang Sid & Nancy.
Dan mungkin kita akan berpikir bahwa pasangan inilah yang dijadikan model untuk tokoh Adolph & Thelma.
Tapi mungkin memang semua pasangan punk bernasib mirip-mirip itu..



End note :
You were my little baby girl,
And I shared all your fears.
Such joy to hold you in my arms
and kiss away your tears.
But now you're gone, there's only pain.. (siapa pula yang nyuruh bikin Nancy 'gone'?)
and nothing I can do.
And I don't want to live this life,
If I can't live for you.
To my beautiful baby girl.
Our love will never die...

Merupakan bait puisi yang ditulis oleh Sid setelah kematian Nancy.
Dikutip dari buku "And i don;t want to live this life" oleh Deborah Spungen.























Selanjutnya mohon ditunggu review tentang film ini..



















Kalo yang ini, membawakan atmosfer punk yang lebih menyenangkan dan positif.
Gw sejak baca komiknya Mito Orihara jadi suka sama Blue Hearts..
Makin suka setelah nonton Linda! Linda! Linda!..

Monday, February 15, 2010

Japan Rock Day 17, a review!























Huaahh!!
Meskipun cape bangeett, gw suuenuueenng (baca:senang) bisa main di Japan Rock Day vol.17 tahun 2010 inii!! Dan sekaligus senang karena hipotesis gw terbukti.
Itu looh..! Seperti yang tercantum di review tentang acara STAN itu.

Ternyata benar, pas hari H JRD vol.17 ini, ga ada hal aneh yang merugikan..
Padahal pas H-2 aja kita masih ga yakin, sebenarnya acara JRD ini jadi atau ga..(pas BOH juga gini sih..).
Karena Mas Awi lagi ribet ngurusin hal lainnya, jadi technical meeting hanya diadakan bagi band-band baru..
AgGGHh! Jadinya kami terlantaarr tanpa kepastiaann...!!
Cukup mengerikan juga sebenarnya.


Tapi gapapa koq, Mas Awi..
Yang penting, pada hari H tidak ada kejadian buruk...
Bahkan, sound stage yang awalnya kami kira bapuq pun ternyata jadi bagus kalo ditangani dengan tepat..
Bahkan, meskipun 1 nampan efek gitarnya Dowe rusak tiba-tiba pun mendatangkan keuntungan lain baginya (dan kami semua). Karena Dowe jadi mencolok gitarnya langsung ke ampli bagus..Dan..Ternyata sound yang keluar pun baguss!
Alhamdulillaa~~hhh..!

Dann..Kami yang dodol ini ternyata main selama nyaris 25 meniit!
Padahal jatahnya 15 menit!!
Karena terjadi kesalahan teknis di awal (efek gitarnya Dowe ngambeg), tadinya kami hanya mau membawakan 2 lagu saja. Tapiii, entah mengapa Mas Awi mengizinkan kami (atau pasrah) untuk nambah..
Jadi total kami memainkan 4 lagu (termasuk intro)..
Maapin kite ye, Mas Awi...!!
Tapi makasih looh! Hihihi..























Oh,ya..
Ada satu hal sih, yang rada ga menguntungkan..
Yaitu arena manggung yang gelap sekali, sehingga hasil jepretan kameranya pecah-pecah..
Namun selain itu, semuanya mulus-mulus saja..






















Oh,ya (lagi)!
Ada juga yang merugikan (khususnya buat gw doank), yaitu ruangan cafe yang penuh asap rokok. Karena, kalo menghirup asap rokok lebih dari 15 menit, sinusitis gw pasti kambuh..
Untungnya kali ini sinusitis itu ga menunjukkan pengaruh merugikan terhadap suara gw...























Inilah para MC dari JRD vol. 17...!



Yang bikin gw kagum adalah :
Banyak band Bandung yang bersedia cape-cape jauh-jauh dari Bandung untuk main di JRD 17 ini..Padahal acaranya sampe malem banget..
Dan performance-nya pada niat semua!! Hebaat!
Salut banget buat semuanya!


Uookeeyy!!
Pokoknya terima kasih sebesar-besarnya untuk Mas Awi dan panitia acara, Mas Gondrong dari Studio 11 & friends, Aya beserta teman-teman dari Umaku Eisa, rekan-rekan band seperjuangan, dan makasih banyak buat yang udah datang ke acara ini dan bertahan sampai nyaris tengah malammm!!
Hontou ni doumo arigatou gozaimasuuu!
Love y’ all!!

Friday, February 12, 2010

Photograph in Goth

























Etts..Jangan suudzon dengan mengatakan, "Wah, dieditnya gila-gilaan..
Sampe ngalahin Mr. Cullen..(atau Michael Jackson).."

Sumpe banget deh, Bang!
Ini fotonya memang udah bagus banget, karena :
1. Fotografernya jago.
2. Kamera yang gila canggihnya.
3. Objeknya, ga bermaksud memuji, memang sangat berbeda kalo udah di depan kamera.
Kita yang nontonin dia pas lagi dijepret juga ampe nganga-nganga.
Makin ternganga saat ngeliat hasil jepretannya..
Ckckck..

Dowe ini memang merupakan salah satu dari sedikit orang yang sangat beruntung.
Pokoknya tampilannya 180 derajat deh perubahannya kalo udah di depan lensa!
Hebat...

Btw,
Photograph by Widhi.
Edited by me.

Confession of Myself

Kenakalan-kenakalan yang pernah gw lakukan sepanjang hidup (Sensored Version..hahah..) ;

1. SMP kelas 1, terlibat (bukan hanya terlibat, melainkan juga menjadi tokoh kunci) dalam sebuah perkelahian antargank cewe. (Hohoho..Gw jadi inget Havoc-nya Anne Hathaway..).
Padahal penyebab perkelahiannya bukan gw, tapi entah kenapa gw yang jadi tersangka utama.
Tau ga sih karena apa???
Jadi, temen “se-gank” gw (cewe) jadian sama senior kelas 3 yang jadi idola.
Egh! Salah seorang member gank lain cemburu berat dan jadi nge-rese-in temen gw..
Udah, gitu doank tuh masalahnya!
Tau-tau gw udah berada di dalam medan pertempuran siang bolong! Huahh..
Jadilah kemudian gw “yang” dipanggil kepala sekolah...
Susah memang jadi tokoh utama..Hhhh..
























Hail to vandalizm (duluuu..)


2. SMP kelas 2, entah kenapa gw ini jadi magnetnya kriminal..
Yah, karena gw berprinsip “i always get what i want”, jadilah gw berhasil “memenangkan” hati senior yang banyak fansnya..Aihh, senangnyaaa~~!
Untuk sesaat hidup gw ceria penuh warna..Meskipun gw ditatap dan dilirik sinis oleh teman seangkatan yang doyan ama senior itu juga..
EGGH! Tapiii!!
Ternyaataaa~~ takdir punya rencana lain..
Tau ga siiihh..! Ternyata si senior idola itu psycho berat dan...
Ternyata dia itu gembong preman dan.. seorang “user”..
Dann... ga lama setelah gw jadian, dia DO dari sekolah gw..
Coba bayangkannn! Masa gw jadian sama siswa drop out!!! Masih anak SMP pulak!
Udah gitu, masalah gw jadian sama si preman ini ampe dibawa ke rapat guru..
Dann...Ortu gw dipanggil cobaaa...Aiiihh!
Bumi gonjang-ganjing waktu itu...!!
Jadilah gw ikan asin di rumah..Diomeli dan diomeli sepanjang hari..!
Ya udah, deh..Endingnya tentu ga mengenakan bagi si preman...
Gw sih udah illfiiillll...



3. SMA kelas 1 gw ga melakukan kenakalan yang patut diceritakan..
Tapiiii! Pas SMA kelas 2, gw jadi kaya Helen Keller yang masih liar gituh.
Coba diurutkan ;
a. mulai dari nyolong soal ujian (2x),
b. nyolong kunci jawaban latihan soal, ketauan pulak..Untung pelakunya ga diketahui..
c. cabut pelajaran membosankan (sejarah, ekonomi, geografi),
d. masuk siang dengan alasan sakit (entah kenapa, kalo gw yang ngomong guru-guru percaya aja..Huahahahhah..),
e. cabut main ke luar sekolah dengan alasan tugas OSIS (ga terhitung berapa kali banyaknya),
f. nangisin Pak Qosim, guru Matematika yang luar biasa sinting..
g. main kasti di lapangan masjid (padahal dilarang) sampe bolanya kena mata orang (dan orangnya jadi buta temporer)! Meskipun bukan gw yang mukul bolanya.
h. Ngisengin Bu Ida, wali kelas kami tercinta, tapi itu lebih karena sayang looh..Bukannya benci..
i. Kalo belum siap ulangan, pasti gw minta susulan dan pura-pura sakit..Hihihi..
j. Menjahili guru Bintang Pelajar (yang gw sebel, kalo yang gw cinta kaya Pak Firman sih ga..)
k. Matiin lampu di seluruh gedung BP pas kelas lain lagi belajar..Hahahah..Senangnya..



4. Kelas 3 SMA, kenakalan gw berkurang drastis. Takut kualat, mungkin..
a. Tapi gw jadi rebel karena mau tetap main musik meskipun gw harus menghadapi ujian akhir.
Jadilah gw sering kabur dari jadwal yang seharusnya.

b. Gw bener-bener ga suka ama guru Matematika di Inten (soalnya dia cuma mau ngajarin yang pinter..), jadi gw selalu cabut pas pelajaran itu.
Sendirian! Cabut sendirian ‘kan jarang dilakukan loh..
Namun selain guru matematikanya, gw suka banget dengan guru Inten..
Dan mereka juga selalu berbaik hati menanggapi celetukan dan jayuzan gw waktu itu..
























Ternyata, untuk memperoleh foto ini gw harus mengorbankan sebelah pipi, pacar masa kecil dan teman-teman (yang agak tak setia)..


Kelas 3 SMA bisa dibilang masa kelabu gw, karena semuanya jungkir balik waktu itu..
Harga yang harus dibayar untuk tetap bermain musik cukup mahal juga, ternyata.
Karena gw jadi sering berantem (plus hantaman fisik) dengan partner gw waktu itu..
Hhhhh... Kenapa gw bisa jadian dengan orang seperti itu dulu?
Kenapa gw selalu salah jadian dengan orang sih? Dasar bloon!!!
Akhirnya sekarang sudah impas, kini gw ga salah pilih lagi...!!
Fuuuii..Ohohohohoh..



5. Nah, setelah lewat masa kelabu kelas 3 SMA, tiba saatnya memasuki dunia baru di universitas.
Hmm..Kenakalan gw sudah berkurang lebih banyak lagi di bangku universitas ini..
Paling gw “hanya” pernah cabut mata kuliah Kalkulus doank..
Misalnya, ada 14 kali pertemuan.
Nah, 13 kalinya gw ga masuk, cuma titip absen sama Rommy.
Hahhahah... Huahh, gw berutang budi kepada Rommy..

Demikianlah daftar singkat kenakalan gw selama ini yang telah disensor terlebih dahulu..
Huahahahhah..

Wednesday, February 10, 2010

The Chronicles of Narnia, a review






















Apakah kalian kenal dengan 4 bersaudara Pevensie?
Yap! Merekalah yang beruntung bisa mengarungi dunia ajaib Narnia lewat lemari mantel milik Profesor Digory.
Peter, Susan, Edmund, dan Lucy Pevensie kemudian mengalami petualangan seru nan fantastis di Narnia, negeri yang diciptakan oleh Aslan.
Dan seterusnya, dan seterusnya..

Chronicles (aduh bahasanya campur-campur..) ini ditulis oleh Clive Staples Lewis (namanya mengingatkan gw akan stapler) sejak tahun 1949 hingga 1954, dengan sumbangan ilustrasi klasik dari Pauline Baynes.

Namun entah karena alasan apa, Bapak Lewis menulis novel ini secara ga berurutan (tidak sesuai kronologi cerita).
Koq bisa yah..? Gimana sih cara otaknya bekerja..
Jadinya, pembacalah (yang notabene adalah bocah-bocah) yang harus mengurutkan kisah ini sendiri.























Opa Lewis yang nasibnya buruk di abad 21 ini.
Karena dia dihujat kiri-kanan akibat karyanya yang kontroversial ini, The Chronicles of Narnia.
Dia dihujat oleh kaum feminis.
Dihujat oleh kaum ateis.
Dihujat oleh umat Nasrani aliran tertentu (dan evangelist tertentu)..
Dihujat oleh umat agama lain karena karyanya (terutama Narnia) dianggap sebagai alat doktrin Nasrani..




Adapun urutan sebenarnya (sesuai kronologi cerita) dari chronicles ini adalah :
1. The Magician's Nephew
2. The Lion, the Witch and the Wardrobe
3. The Horse and His Boy
4. Prince Caspian
5. The Voyage of the Dawn Treader
6. The Silver Chair
7. The Last Battle

Okey, mari kita bahas satu per satu alur umum dari Chronicles of Narnia ini!

1. The Magician’s Nephew : “Ini kisah tentang sesuatu yang terjadi dulu sekali ketika kakek-nenekmu masih kanak-kanak. Kisah ini penting karena mengungkapkan bagaimana pertama kali dimulainya berbagai hal bisa keluar-masuk dari dunia kita sendiri ke tanah Narnia...”
























Di sini tampak Fledge (Sang Pegasus) sedang ditumpangi oleh Digory dan Polly..
Di bawahnya tampak pemandangan Narnia yang baru diciptakan..


Jadi, dapat disimpulkan bahwa The Magician’s Nephew bercerita tentang asal mula terbentuknya Narnia.
Kenapa judulnya The Magician’s Nephew?
Karena Digory Kirke (yang akan menjadi Profesor Kirke) memperoleh kesempatan masuk ke cikal-bakal Narnia akibat dipaksa memakai cincin ajaib yang dimiliki oleh pamannya, Andrew.
Si Paman Andrew ini emang rada-rada creepy dan sangat eksentrik..

Nah, pokoknya si Digory kecil pergi ke dunia lain yang masih liar bersama dengan Polly (gadis kecil tetangganya).
Kemudian, tanpa disengaja Digory membangunkan Jadis (yang akan dikenal sebagai White Witch kemudian) yang kejam (dan rada sinting).
Sialnya lagi, si Jadis ini pengen ikutan ke dunia manusia bersama Digory dan Polly!!
Waduh...
(Rada mirip sama cerita Adam dan Hawa kita..Bedanya di sini yang berbuat kesalahan adalah si cowo..)

Buku ini kemudian menjelaskan bagaimana Aslan akhirnya muncul dan mengalahkan Jadis, dan menjadikan seorang kusir kereta sebagai raja pertama di Narnia.



2. The Lion, the Witch and the Wardrobe :
Yah, tak perlu diceritakan lagi, karena semuanya pasti sudah pernah nonton filmnya..
Di sini diceritakan bahwa Jadis akhirnya kembali ke Narnia dan berhasil mengambil alih pemerintahan kerajaan itu.
Dan kemudian, 4 anak Pevensie dipanggil dari dunia kita untuk mengalahkan Jadis dan menjadi penguasa Narnia.






















Jadis yang tampak di sini 100x lebih terlihat "manis" dibandingkan sifat aslinya yang sinting..
Penampilan memang bisa menipu..
Ckckckck..
























Oh,ya.. Tapi, anehnya..
Di antara ketujuh buku ini, The Lion, the Witch and the Wardrobe-lah yang paling tipis..
Kenapa justru buku ini yang dijadikan film yah?
Meskipun memang filmnya bagus sekali...
Sehingga bagi orang yang ingin membaca bukunya setelah menonton filmnya akan merasakan kekecewaan mendalam.
Kenapa?

Karena, sejak awal Lewis merencanakan rangkaian buku ini untuk pembaca kecil/muda.
Sehingga, gaya narasi Lewis pun seperti sedang bicara kepada bocah.
Dan ceritanya rada bikin ngantuk (kecuali The Horse and His Boy dan The Last Battle).



3. The Horse and His Boy :
“Ini kisah petualangan yang terjadi di Narnia, Calormen, dan tanah yang berada di antara keduanya (disebut Archenland), pada zaman keemasan ketika Peter merupakan Raja Agung Narnia dan adik laki-laki juga adik perempuannya menjadi raja dan ratu di bawah pimpinannya.























Ini adalah cover versi audiobook yang dapat dibeli di sini!
Ilustrasi ini menampilkan Aravis Tarkheena di atasu kuda krem : Gwin.
Dan kuda jantan putih itu adalah Bree, sedangkan bocah lelaki di sampingnya adalah Shasta.




Gw suka dengan buku ini terutama karena akhirnya tokohnya tidak berhubungan dengan 4 anak Pevensie..(bosen juga ketemu 4 Pevensie terus..)

Kisah The Horse and His Boy adalah mengenai Shasta seorang bocah cowo dari Archenland (negeri tetangga Narnia) yang dipungut oleh orang Calormen (juga negeri tetangga Narnia).
Si Shasta ini sering disiksa oleh bapak angkatnya, sehingga akhirnya di nekad kabur dari rumah dengan menggondol kuda seorang bangsawan Calormen.

Betapa beruntungnya Shasta, ternyata kuda yang dicurinya ini adalah Kuda Yang Bisa Berbicara dari Narnia yang diculik dan dibawa ke Calormen.
Nama kuda jantan itu adalah "Breehy-hinny-brinny-hoohy-hah".
Hahahah...Niat banget nih kuda bikin nama..
Karena terlalu panjang, akhirnya Shasta hanya memanggilnya Bree.

Bree ini adalah kuda perang jantan yang sangat arogan dan rada rewel, sedangkan Shasta ini bocah lelaki yang minderan dan rada penakut. Kloplah kombinasi ini..

Di tengah perjalanan kabur, mereka berjumpa dengan Aravis dan Gwin.
Aravis ini adalah Trakheena (gelar bangsawan wanita di Calormen) yang rebel.
Sehingga dia kabur dari rumah karena tak mau dijodohkan dengan Penasihat Agung kerajaan yang udah bangkot-kot-kot-kot..!

Akhirnya Bree, Shasta, Aravis dan Gwin (oh,ya..Gwin juga Kuda Yang Bisa Berbicara) bersama-sama bertualang untuk mencapai Narnia. Dan kemudian mengadu nasib di negeri itu.
Tapi ternyata takdir punya rencana lain bagi masing-masing tokoh ini...


4. Prince Caspian :
Waktu menonton movie-nya, gw rada-rada ga mudeng mengenai asal mula Caspian menjadi pangeran. Tapi, ternyata lumayan jelas diceritakan di bukunya.

Telah 1 tahun berlalu di dunia kita sejak 4 bocah Pevensie pergi ke Narnia.
Tapi ternyata telah ribuan tahun berlalu sejak Raja Peter memerintah Narnia..
Dan tanpa pimpinan yang bijaksana, Narnia jatuh ke tangan bangsa Telmarine (dari negeri Telmar, negeri di dunia lain).

Bangsa Telmarine ini memilih untuk mengasingkan diri dari segala bentuk kegaiban di Narnia.
Hewan-hewan Yang Bisa Berbicara, faun, dryad, kurcaci, dan lainnya dianggap hanya mitos isapan jempol. Sehingga semua mahkluk gaib di Narnia tinggal tersembunyi di kegelapan hutan.

Suatu masa saat Raja Miraz memerintah Narnia, hiduplah Caspian kecil yang dibimbing dengan baik oleh Doktor Cornelius (manusia setengah kurcaci). Caspian kecil ini telah ditinggal mati kedua orangtuanya yang menjabat sebagai raja dan ratu Narnia sebelum Miraz.

Nah, seperti yang telah diduga, ternyata Mirazlah yang membunuh raja dan ratu sebelumnya, dan kini ia berniat menyingkirkan Caspian.
Dan seterusnya, dan seterusnya...

Hanya untuk bahan pertimbangan, menurut gw menonton filmnya setelah baca bukunya akan menimbulkan dampak positif.
Namun jika dibalik, bisa-bisa pembaca akan kecewa..
Karena itu tadi, serunya perang dan petualangan para tokoh di Prince Caspian ini ditutupi dengan humor buat bocah..
10 jempol buat sang pembuat film, deh..
Bisa-bisanya dia bikin film yang breathtaking dari cerita anak yang bikin ngantuk ini.


5. The Voyage of the Dawn Treader :






















Ini juga adalah cover versi audiobook yang dapat dibeli di sini!
Ilustrasi ini menunjukkan Caspian, Lucy & Edmund Pevensie, Reepicheep si Tikus Pemberani, dan yang paling belakang adalah Eustace sebelum hilang sifat nyebelinnya.


Masih dengan tokoh utama Caspian, ditemani dengan Lucy dan Edmund.
Tapi ada tokoh baru di sini, yang nantinya akan memegang peran penting di buku selanjutnya : Eustace.

Buku ini mengisahkan petualangan Caspian (yang sekarang sudah jadi raja) dalam mencari kerabat almarhum ayahnya yang dulu diasingkan oleh Miraz ke pulau-pulau di lautan.
Dalam petualangan ini, mereka bertemu dengan berbagai jenis orang dan mahkluk ajaib. Termasuk dengan Ular Laut Raksasa dan kaum Dufflepud yang tolol berat.

Oh,ya! Eustace ini adalah sepupunya bocah-bocah Pevensie, yang memiliki sifat menyebuuaallkan....
Yang banyak kita jumpai pada bocah masa kini.
Tapi Eustace yang menyebalkan akan lenyap, terutama akibat petualangan tak terlupakan saat Eustace menjelma menjadi naga.
Nasib sial ini justru mengubah sifat buruknya tergantikan oleh sifat yang jauh lebih baik..


6. The Silver Chair :






















Kisah ini terutama tentang petualangan Jill Pole dan Eustace mencari pangeran yang hilang.
Pangeran yang dicari ini adalah Pangeran Rilian, anak dari Raja Caspian.
Ternyata Caspian si pangeran ini mengalami nasib menyedihkan di usia dewasanya.
Dia ditinggal mati istrinya dalam usia muda, kemudian kehilangan anaknya yang masih bocah..

Jill dan Eustace tidak berpetualang sendirian, melainkan ditemani dengan seorang marsh-wiggle bernama Puddleglum.

Tapi repotnya, marsh-wiggle itu adalah mahkluk yang sangggaaatttt pesimiiisss..!
Selalu berprasangkan negatif terhadap apapun! Wuih, repotnya...
Jadi, disaat Jill atau Eustace membutuhkan dukungan, yang mereka peroleh malah ucapan patah semangat dari Puddleglum.
Tapi untungnya, lama-lama Jill dan Eustace terbiasa juga.

Dalam usaha mencari Pangeran Rilian ini, mereka sampai terdampar di negeri raksasa jahat yang doyan daging manusia.
Dan juga mereka sampai harus masuk ke Underworld, tempat Pangeran Rilian diduga hilang. Tokoh antagonis dari kisah ini masih punya kekerabatan dengan Jadis, si White Witch.
Wanita penyihir yang menyekap Rilian di kerajaan bawah tanahnya ini sebenarnya adalah jelmaan dari ular kobra hijau raksasa..
Wuih..repotnyaah!!! (again..)



7. The Last Battle :






















Menurut gw secara pribadi, buku ini memang pantas disajikan sebagi penutup dari kisah Narnia. Alurnya sangat pelik, dan kini jarang muncul humor-humor buat bocah.
Buku ini menceritakan hari akhir Narnia, atau kita lebih akrab dengan sebutan kiamat.
Tapi gw ga ngerti sih, maksudnya cuma the end of Narnia tau the end bagi negeri-negeri lainnya juga.

Pemeran utama di kisah ini masih pasangan yang sangat kita suka ; Jill Pole dan Eustace!
Mungkin sial bagi mereka, karena harus bertempur (benar-benar berperang) di pertempuran akhir Narnia.
Oh,ya asal tau saja..Hari akhir Narnia ini disebabkan oleh KERA (yang punya ekor panjang itu..) bernama Shift yang memaksa keledai temannya untuk menjadi singa!! Dan pura-pura menjadi Aslan (menganalogikan Tuhan, btw).
Lewis mungkin terinspirasi dari dongeng klasik "Keledai yang Menyamar Jadi Singa"..

Jadi, dia berpura-pura mejadi Aslan dan memerintahkan hewan-hewan lain untuk mengerjakan apapun demi kepuasan si Shift sendiri!! Parahh..
Dan sedihnya lagi, penduduk Narnia yang sudah tak pernah didatangi Aslan selama ratusan tahun ini menjadi rapuh keimanannya.
Jadi, mereka mudah percaya pada tipuan-tipuan murah si Shift ini.
Merasa mirip dengan kondisi kita di abad 21 ini ga?


Seekor kera tua ini bisa menhancurkan Narnia, dengan menjalin kerjasama dengan orang Calormen, yang memang sejak dulu berharap bisa menjajah Narnia.
Jill, Eustace dan Tirian berjuang untuk mengusir orang Calormen sekaligus berusaha mengembalikan kepercayaan rakyat Narnia.
Namun...
Lagi-lagi takdir punya rencana lain..






















Kalo yang ini adalah cover versi terbaru dari rangkaian novel ini!
Dibuat oleh David Wiesner, pemenang Caldecott Medal sebanyak 3 kali..

Lele Lela, a review















“SELAMAT DATANG!! Selamat pagi di Lele Lelaaaa!!!”

....Wuiih!

Jantung gw yang ga siap nyaris loncat keluar via mulut saat para pramusaji Lele Lela menyambut kami dengan teriakan seperti di atas. Padahal, setelah meyakinkan diri dengan lirak-lirik jam dinding, ternyata memang saat itu jam 21.30 WIB!

Sama sekali bukan “pagi”..

Setelah mengamati lebih lanjut, ternyata ada spanduk gueedhee di temboknya mini resto ini yang bertuliskan seperti “Selamat Pagi di Lele Lela. Karena kami selalu fresh dan semangat”.

Yah, pokonya tulisan sejenis itulah..Rada-rada memory loss soalnya.


Malam itu adalah untuk kesekian kalinya gw ke Lele Lela.

Karena selalu “tobat sambal” terhadap Lele Fillet Saus Padangnya.

Sumpah, pedesnya nampol banget! Bikin lidah loe jadi bebal setelah nih lele abis dimakan.

Setiap gw pesen Lele Fillet Saus Padang, pasti meja gw penuh dengan berbotol-botol teh botol dan gelas minuman utama yang udah abis duluan. Ya itu, karena saus padangnya bener-bener Padang asli.


FYI, gw belum pernah makan lele sebelum mengenal Lele Lela.

Apa? Kenapa? Hmm..Alasannya antara lain karena bentuknya lele itu kurang indah (mirip uler item-item gitu, ama mirip belut juga (tapi belakangan gw jadi suka unagi dan anago sih..hihi)). Dan karena lele itu terlihat kurus, alias dagingnya ga banyak. Bikin gw jadi males berusaha ngerikitin dagingnya.


Hal inilah yang menyebabkan gw memesan lele fillet di saat pertama kali ke Lele Lela. Egh! Ternyata enaaakkk...!! Di suapan pertama hingga ke sembilan, loe masih bisa merasakan rasa asli daging lelenya. Tapi di gigitan berikutnya, ya itu tadi..lidah loe jadi bebal karena kepedesan..

(Sampai sekarang, gw juga belum berani memesan 1 porsi lele yang badannya utuh...)















Inilah lele fillet goreng tepungnyaa!

Memang, kalo dimakan sendiri tanpa sambal rasanya biasa saja..

Tapi, saat kita mencelupkan si lele ke sambal yang di sebelahnya ituhh..

Hmm...Gw yang belum pernah (dan tadinya males ngeliat lele) makan lele ini jadi jatuh hatiii..!



Bagi para pencinta lele, menu yang paling cocok adalah Lele Original-nya (foto no. 1).

Atau bisa juga Lele Goreng Tepung yang enak banget. Karena lelenya jadi lebih garing dan amisnya makin berkurang, tapi dagingnya tetap lembut loh!!

Rasa sambal ulek (atau blender, ga tau juga sih..) khas Lele Lela ini pas banget buat menonjolkan rasa khas daging lelenya.

Jadi bikin ketagihaann...Nyummy!


Namun, seenak apa pun sambal dan saus padangnya, Lele Lela punya 1 kelemahan yang sudah gw temukan. Saus asam manisnya ga enak.

Rasanya terlalu asam dan agak hambar.

Untungnya, masih bisa ditolong oleh rasa gurih dari lele fillet yang digoreng tepung..

Sayang sekali..Semoga bisa diperbaiki rasa dari menu yang satu ini.


Btw, kalo masuk ke Lele Lela pasti kita bakal senyum-senyum sendiri karena membaca spanduk/poster kreatif yang isinya lucu-lucu. Ada juga spanduk gede yang boleh dicoret-coret dengan pesan kesan maupun omongan ga penting seperti “I was here”.

Banyak pengunjung yang memberi saran pada Lela untuk membuat menu Lele Sambal Hijau.

NyuuuuummmyyY!!! Kayanya enak banget tuuuhh...!

Ayo dunk, Lela.. Dibikin yah? Yah? Pasti laku deehh..